oleh

Ratusan Anak Alami ‘Stunting’ di Kabupaten Malteng

-Kesehatan-240 views

AMBON – Maluku Tengah (Malteng) menjadi salah satu kabupaten prioritas penanganan kasus stunting di Provinsi Maluku, karena jumlah anak yang mengalami stunting di kabupaten ini terbilang cukup tinggi.

Selain Malteng, dua kabupaten lain yang dalam tahun ini mendapat prioritas penanganan adalah Seram Bagian Barat dan Kepulauan Aru.

Di tahun 2019, sebanyak 428 balita mengalami stunting dari 11.688 balita yang ada di Kabupaten Malteng.

“Kemarin saya kunjungi Piliana dan Mosso di Kecamatan Tehoru karena menjadi locus (lokasi) kasus stunting. Di Piliana ada 16 anak stunting dari 90 balita, sedangkan di Mosso ada 9 anak stunting dari jumlah 90 anak balita,” kata Duta Parenting Provinsi Maluku, Widya Murad Ismail, saat membuka Pertemuan Koordinasi Terpadu Dalam Percepatan Penurunan Stunting Dan Gizi Buruk di Kabupaten Malteng di Gedung PKK Malteng, Masohi, Rabu (20/11/2019).

Widya mengatakan, dirinya langsung turun ke tiga kabupaten locus stunting di Maluku untuk memastikan, apakah posyandu serta puskesmas di setiap daerah locus sudah bergerak melakukan kegiatan-kegiatan pencegahan dan  percepatan penurunan angka stunting atau tidak. Rencananya, tahun 2020 nanti, Widya juga akan turun ke lokasi-lokasi kasus stunting lainnya yakni di Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku Tenggara dan Maluku Barat Daya.

“Posyandu balita dan anak harus terus diaktifkan. Para ibu hamil juga perlu diberikan informasi penting terkait dengan stunting. Saya juga selalu menghimbau agar masyarakat senantiasa memperhatikan sanitasi lingkungan dan gizi anak,” katanya.

Hanya saja, ia mengingatkan, tugas ini menjadi tanggungjawab semua pihak. Selain dinas teknis terkait, Tim Penggerak PKK di setiap kabupaten juga perlu menjadikan perang melawan stunting menjadi program kerjanya.

“Di Malteng ada 10 desa locus stunting, dan saya baru bisa turun di dua desa kemarin, yakni Piliana dan Mosso. Kalau bisa, Ina Parenting yang diketuai oleh Ibu Bupati, kedepan beserta ibu-ibu Tim Penggerak PKK di kabupaten ini dapat turun ke desa-desa lainnya juga,” imbuhnya.

Menurut Widya, seharusnya kasus stunting di wilayah Malteng bisa dicegah karena daerah ini subur dan memiliki kekayaan laut yang melimpah, sehingga menjadi sumber protein.

“Seharusnya di daerah ini angka stunting-nya rendah, bila perlu tidak ada karena banyak sumber protein yang bisa diperoleh. Misalnya dari ikan-ikan, atau dari umbi-umbian,” sebutnya.

Dijelaskannya, stunting dapat terjadi sebagai akibat dari kekurangan gizi terutama pada saat seribu hari pertama kehidupan. Karena itu pemenuhan gizi dan pelayanan kesehatan pada ibu hamil, perlu mendapat perhatian.

Sementara itu, Bupati Malteng Tuasikal Abua mengatakan, berbagai kebijakan dan program-program inovasi OPD (organisasi perangkat daerah) seperti Messe, Manggurebe Sehat, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, dan Perdesaan Sehat, terus diarahkan untuk secepatnya dapat menurunkan prevalensi stunting dan gizi buruk di masyarakat yang tersebar di 18 kecamatan di Malteng.

“Saya berharap dengan pertemuan koordinasi ini, akan melahirkan rekomendasi dan komitmen bersama untuk mendukung tugas Duta Parenting Provinsi Maluku, untuk bersama-sama perangi stunting dan gizi buruk di seluruh Provinsi Maluku, terkhususnya di Kabupaten Malteng,” tandasnya. (MT-05)

Komentar

News Feed