Sekilas Info

Di Tengah Pandemi Covid-19, Heka Leka & WEA Latih Guru PAUD Di Leitisel

AMBON – Yayasan Heka Leka dengan dukungan Women Earth Alliance (WEA) melatih Pemanfaatan Bahan Alam Dan Sampah Dalam Pembelajaran Untuk Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kecamatan Leitimur Selatan (Leitisel), Ambon.

Pelatihan guru PAUD mencakup 8 negeri di Kecamatan Leitisel yang diadakan pada tanggal 14 - 15 Januari 2021 di Negeri Hukurila dan akan dilanjutkan pada tanggal 26 - 27 Januari di Negeri Rutong.

Pelatihan guru PAUD yang dihadiri oleh perwakilan guru PAUD dari Negeri Naku, Hukurila, Kilang, dan Ema dibuka oleh Camat Leitisel, Ricky D Sopacua.

“Program PAUD adalah kemampuan dasar dalam membaca, menulis, dan berpikir. Namun, hal ini bukan tujuan utamanya, melainkan hasil proses pendidikan. Oleh karena itu, saya rasa kegiatan ini sangat positif dan saya harapkan ibu-ibu dapat mengikuti secara seksama,” ungkap Sopacua

Dengan menjalankan protokol kesehatan, pelatihan guru PAUD ini mendapat respon baik dari para peserta.

Mereka mengatakan pelatihan ini sangat membawa manfaat terhadap pengembangan play-based learning dengan anak-anak di kelas.

“Sangat bersyukur dengan kegiatan yang dirancang teman-teman Heka Leka membawa manfaat bagi kami para guru PAUD. Meskipun pelatihan ini sudah pernah dilakukan tetapi kali ini, kegiatannya lebih detail” ungkap Merry Angkotamony, Ketua Gugus PAUD Hukurila-Hatalai.

Pelatihan di Negeri Hukurila selama dua hari itu berjalan dengan lancar dan meninggalkan harapan dari peserta terhadap Yayasan Heka Leka untuk mengadakan kembali kegiatan untuk pengembangan PAUD kedepan.

“Kami sangat mengharapkan kegiatan ini tidak sampai disini, namun ada keberlanjutan demi perkembangan anak-anak kami yang handal bagi bangsa dan negara,” ungkapnya.

Sementara itu, Public Relation Yayasan Heka Leka, Nadya Souisa menjelaskan kurangnya tenaga pendidik yang berkualitas dan terbatasnya anggaran dalam memenuhi properti mengajar menyebabkan kegiatan pembelajaran PAUD tidak efektif.

“Situasi ini tentunya menghambat perkembangan anak-anak dalam berkreativitas melalui permainan dan penggunaan alat-alat menarik lainnya. Selama masa pandemi Covid-19, kegiatan belajar mengajar PAUD menjadi terhambat. Sementara di waktu yang sama, Maluku juga menghadapi masalah serius terkait sampah, yang mencemari separuh laut dan daratan Maluku serta mengancam kelestarian terumbu karang dan makhluk hidup,” jelasnya.

Menurutnya, PAUD adalah investasi dasar untuk membentuk anak hingga dapat terhubung dengan alam dan budaya lewat interaksi positif dan kreatif.

“Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk memperkenalkan konsep pembelajaran dengan metode bermain (play-based learning) dengan pemanfaatan bahan alam.  Konsep ini sejatinya tidak asing bagi guru PAUD. Namun, dalam praktek belajar sehari-hari, konsep ini belum diterapkan secara teratur dalam proses belajar dan bermain di pendidikan anak usia dini,” ungkapnya.

Dikatakan, Heka Leka  memfasilitasi para guru untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dengan memanfaatkan sumber daya alam dan sampah melalui beberapa aktivitas antara lain daur ulang kertas, membuat hopstotch dari spanduk bekas, membuat bak pasir untuk kegiatan pra menulis, membuat panggung puppet dari kardus bekas, kreasi dengan dedaunan, dan melukis batu.

“Aktivitas yang diberikan akan menjadi pilihan yang cocok bagi para guru PAUD untuk di implementasi bersama anak-anak di kelas,” katanya. (MT-04)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!