AMBON, MalukuTerkini.com – Stabilitas kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Maluku menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan pada awal tahun 2026.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku, nilai ekspor daerah ini mengalami kontraksi akibat merosotnya performa komoditas unggulan di pasar internasional.

Kepala BPS Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia, mengungkapkan nilai akumulatif ekspor Maluku pada periode Januari hingga Maret 2026 tercatat sebesar US$ 10,79 juta.

“Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 6,72 persen jika dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama di tahun 2025 yang saat itu mampu menyentuh angka US$ 11,56 juta,” ungkap Pattiwaellapia dalam keterangannya yang diterima malukuterkini.com, Senin (4/5/2026).

Dijelaskan, penurunan tersebut dipicu oleh melemahnya nilai ekspor pada kelompok non-migas, khususnya komoditas ikan dan udang yang selama ini memegang peran krusial dalam struktur ekspor daerah.

Maritje menjelaskan bahwa ketergantungan Maluku pada satu komoditas utama menjadi tantangan tersendiri bagi stabilitas ekonomi wilayah.

“Struktur ekspor Maluku saat ini masih sangat bergantung pada satu komoditas utama karena tidak adanya kontribusi dari golongan barang lain, seperti bahan bakar mineral yang pada periode sebelumnya sempat memberikan pengaruh,”jelasnya.

Kondisi yang lebih memprihatinkan terlihat pada performa bulanan, di mana ekspor Maluku pada Maret 2026 hanya tercatat sebesar US$ 0,11 juta. Angka tersebut merosot tajam hingga 86,52 persen apabila dikomparasikan dengan perolehan pada Maret tahun lalu.

“Penurunan ini disebabkan oleh turunnya ekspor nonmigas terutama pada komoditas ikan dan udang yang menjadi penopang utama ekspor Maluku,” ungkapnya. (MT-06)