AMBON, MalukuTerkini.com – Kinerja ekspor Provinsi Maluku mengalami kontraksi signifikan pada periode Maret 2026.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku, nilai ekspor Maluku tercatat hanya menyentuh angka US$ 0,11 juta, yang seluruhnya diserap oleh pasar Hongkong.

“Angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 86,52 persen jika dibandingkan dengan capaian bulan sebelumnya yang masih berada di level US$ 0,81 juta,” ungkap Kepala BPS Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia dalam keterangannya yang diterima malukuterkini.com,Senin (4/5/2025)

Ia merincikan merosotnya nilai ekspor ini dipicu oleh hilangnya aktivitas pengiriman barang ke Tiongkok selama bulan Maret 2026, padahal, negara tersebut selama ini merupakan motor utama sekaligus tujuan prioritas bagi komoditas asal Maluku.

“Penurunan ini terjadi karena tidak adanya ekspor ke Tiongkok pada bulan Maret 2026, padahal pada bulan sebelumnya negara tersebut menjadi tujuan utama ekspor. Kondisi ini mencerminkan betapa tingginya ketergantungan ekspor daerah pada pasar tertentu,” rincinya.

Kendati performa di bulan Maret meredup, potret akumulatif sepanjang Januari hingga Maret 2026 menunjukkan bahwa total nilai ekspor Maluku telah mencapai US$ 10,79 juta.

“Seluruh nilai tersebut berasal dari kawasan Asia, di mana Tiongkok masih mendominasi dengan kontribusi sebesar US$ 10,11 juta atau setara dengan 93,70 persen. Sementara itu, posisi kedua ditempati oleh Hongkong dengan nilai US$ 0,68 juta atau sekitar 6,30 persen,” rincinya.

Pattiwaellapia juga mengaku pasar ekspor Maluku saat ini sangat terkonsentrasi hanya pada dua negara tersebut di kawasan Asia, tanpa adanya aktivitas perdagangan ke kawasan ASEAN maupun wilayah lainnya. (MT-06)