AMBON, MalukuTerkini.com – Persoalan infeksi HIV dan AIDS di Indonesia, khususnya di Provinsi Maluku dan Kota Ambon, kian menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan.
Data dalam tiga tahun terakhir mengindikasikan adanya lonjakan kasus baru yang sangat signifikan. Berdasarkan laporan berkala medis, wilayah Kota Ambon saat ini menyumbang angka tertinggi atau hampir mencapai 50 persen dari akumulasi total kasus yang ada di seluruh Maluku.
Fenomena ini membawa wilayah tersebut ke dalam status kondisi waspada, mengingat rata-rata ditemukan lebih dari satu kasus infeksi baru pada setiap harinya.
Hal yang paling mengejutkan dari evaluasi data teranyar menunjukkan terjadinya pergeseran tren sosiologis penularan virus secara drastis. Jika pada tahun-tahun sebelumnya mata rantai penyebaran didominasi oleh kelompok Pekerja Seks Komersial (PSK), kini persentase penularan HIV terbesar di Ambon justru ditemukan pada kelompok Lelaki Seks Lelaki (LSL).
Akademi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Pattimura (Unpatti), dr. Ritha Tahitu M.Kes, mengungkapkan keprihatinannya atas fenomena yang sedang terjadi di tengah masyarakat ini.
Hal itu ia ungkapkan saat memyampaikan materi bertajuk “Deteksi Dini & Pendekatan Medis HIV/AIDS, Lindungi Diri, Lindungi Sesama” di depan peserta Seminar Edukasi “Health Up 2026”yang digelar mahasiswa FK Unpatti di Ruang Kuliah FK Unpatti, Ambon, Minggu (31/5/2026).

Ia memaparkan lonjakan ini sangat erat kaitannya dengan peningkatan perilaku seksual berisiko di kalangan generasi muda.
“Menurut data penunjang dari BKKBN, sebagian besar remaja usia sekolah terpantau telah melakukan aktivitas seksual di luar nikah, dengan sebaran persentase tertinggi berada pada rentang usia 16 sampai 17 tahun. Angka penularan pada populasi usia produktif antara 15 hingga 24 tahun pun kini berkontribusi sebesar 25 persen dari total kasus nasional. Tren tersebut secara otomatis menempatkan Indonesia di peringkat ke-14 dunia untuk estimasi jumlah Orang Dengan HIV (ODHIV) tertinggi, sekaligus urutan ke-9 global untuk estimasi infeksi baru,” ungkapya.
Mantan Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Maluku ini menjelaskan terdapat perbedaan mendasar yang harus dipahami secara medis antara infeksi HIV dan kondisi klinis AIDS.
“HIV merupakan virus RNA yang secara spesifik menyerang sistem kekebalan tubuh, khususnya sel limfosit CD4 yang berfungsi sebagai benteng pertahanan utama manusia. Saat memasuki fase laten yang berlangsung selama 5 hingga 10 tahun, fisik pengidap akan terlihat seratus persen sehat dan bugar tanpa gejala klinis apa pun. Namun, apabila infeksi tersebut tidak ditangani dengan cepat, kondisi medis pasien akan merosot ke stadium akhir yang disebut AIDS, di mana kadar CD4 turun drastis di bawah 200 sel per milimeter kubik darah dan memicu munculnya berbagai infeksi oportunistik yang mematikan seperti TBC berat atau diare kronis,” jelasnya.
Ritha Tahitu juga merinci mekanisme biologis penularan virus yang hanya dapat terjadi apabila memenuhi empat syarat mutlak secara berurutan, atau yang dikenal dalam dunia kedokteran sebagai metode ESSE.
“Syarat tersebut meliputi adanya jalan keluar bagi virus melalui cairan tubuh tertentu (Exit), jumlah konsentrasi virus yang cukup tinggi untuk menginfeksi (Sufficient), kemampuan virus untuk bertahan hidup di luar tubuh (Survive), dan adanya jalur masuk ke aliran darah orang lain melalui luka atau mukosa (Enter),” rincinya.
Penularan ini, kata Ritha Tahitu, umumnya dimediasi oleh kontak seksual bebas, penggunaan jarum suntik secara bergantian pada penyalahgunaan narkoba, transfusi darah yang terkontaminasi, serta transmisi dari ibu hamil ke janin melalui plasenta atau air susu ibu. Sebaliknya, kontak sosial biasa seperti bersalaman, makan bersama, atau gigitan nyamuk dipastikan tidak akan menularkan virus sama sekali,” rincinya.

“Walaupun pengidap HIV belum menunjukkan gejala, mereka sudah dapat menularkan kepada orang lain. Banyak yang merasa aman karena merasa sehat, padahal virus ini bisa bersembunyi bertahun-tahun tanpa gejala. Ini peringatan buat kita untuk lebih mawas diri dalam pergaulan,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahaya terbesar justru ada pada masa jendela atau window period, yaitu fase awal masuknya virus selama dua minggu hingga tiga bulan di mana hasil tes laboratorium bisa menunjukkan hasil non-reaktif atau negatif palsu, padahal jumlah virus di dalam tubuh sedang tinggi-tingginya dan sangat mudah menular.
“Strategi penanganan terbaik adalah melakukan deteksi dini melalui layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) demi mendapatkan intervensi obat Antiretroviral (ARV) sesegera mungkin” tandasnya.
Ia juga menelaskan, dunia medis saat ini tengah menggaungkan revolusi global berupa konsep Undetectable sama dengan Untransmittable (U=U).
“Melalui konsumsi obat ARV secara teratur dan disiplin minimal selama enam bulan, replikasi virus di dalam darah dapat ditekan hingga tingkat yang tidak lagi terdeteksi oleh alat laboratorium. Secara klinis, kondisi ini membuat pasien ODHIV tidak akan menularkan virusnya kepada pasangan seksual mereka, sehingga mereka memiliki kesempatan untuk menjalani hidup normal secara sehat,” jelasnya.
Dengan adanya sinergi komprehensif mulai dari edukasi remaja, penolakan narkoba, hingga penyediaan obat ARV secara gratis, diharapkan visi global tahun 2030 dapat tercapai. Target besar tersebut berfokus pada pencapaian tiga pilar utama, yakni tidak ada lagi penularan kasus baru, tidak ada lagi kematian akibat AIDS, dan hilangnya stigma diskriminasi sosial di tengah masyarakat. (MT-01)

Tinggalkan Balasan