AMBON, MalukuTerkini.com – Kesenjangan akses layanan kesehatan yang berkualitas antara wilayah perkotaan dan pedesaan di Indonesia masih menjadi tantangan besar, khususnya di kawasan timur.

Menyadari hal tersebut, Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Pattimura (Unpatti), dr. Farah Christina Noya, MHPEd., Ph.D, sekaligus alumni Australia Awards Scholarship, mendedikasikan dedikasi dan risetnya demi memperkuat sistem kesehatan serta mencetak dokter-dokter yang siap mengabdi di daerah terpencil.

Dilansir dari laman australiaawardsindonesia.org, Selasa (14/6/2026), disebutkan langkah awal misi Dokter Farah dimulai pada tahun 2008 ketika ia bertugas sebagai dokter pegawai tidak tetap di Kepulauan Aru, salah satu wilayah paling terisolasi di Maluku. Pengalaman berhadapan langsung dengan keterbatasan fasilitas penunjang di lapangan memicu tekadnya untuk melakukan perubahan transformatif.

Saat bergabung sebagai staf pengajar awal di FK Unpatti, ia menyadari adanya kelangkaan keahlian di bidang pendidikan kedokteran yang krusial untuk mencetak generasi dokter baru. Dengan dukungan dari Australia Awards, ia memantapkan langkah untuk mengubah fokus studinya di The University of Western Australia (UWA) demi mendalami metodologi pendidikan kedokteran.

Dokter Farah mengenang kembali masa-masa transisi tersebut dan mengaku sempat merasa tidak yakin bisa berpindah program studi. Namun, berkat arahan dari tim pemberi beasiswa serta dukungan penuh dari pihak universitas di Australia, proses peralihan fokus studi tersebut dapat berjalan dengan sangat lancar.

Sekembalinya ke tanah air setelah menyelesaikan program Magister pada tahun 2011, ia langsung menerapkan ilmu yang didapat untuk mengembangkan kurikulum di Unpatti.

Kendati demikian, ia menemukan fenomena lain yang cukup memprihatinkan, yakni minimnya lulusan dokter yang memilih untuk berkarier di wilayah pelosok Indonesia Timur. Hal ini mendorongnya kembali ke Australia pada tahun 2018 untuk menempuh studi doktoral (PhD) yang berfokus pada akuntabilitas sosial dalam pendidikan kedokteran.

Dokter Farah menjelaskan desain kurikulum pendidikan kedokteran sejatinya harus melakukan lebih dari sekadar mengajarkan keterampilan klinis.

“Institusi pendidikan juga wajib menumbuhkan motivasi internal yang kuat di dalam diri mahasiswa agar mereka memiliki ketulusan hati untuk melayani masyarakat di daerah-daerah yang selama ini kurang terlayani,” jelasnya.

Perjalanan meraih gelar doktor tidaklah mudah karena ia harus membagi waktu dengan membesarkan dua anak yang masih kecil serta melahirkan anak ketiganya di Australia.

Kendati demikian, lingkungan akademik yang inklusif dan ramah anak di Australia membantunya menyeimbangkan peran sebagai ibu sekaligus peneliti hingga berhasil menelurkan tujuh publikasi internasional.

Sepulang ke Indonesia pada awal tahun 2023, Dokter Farah segera menerjemahkan hasil risetnya ke dalam aksi nyata.

Ia meyakini bahwa pendekatan terintegrasi antara kebijakan pemerintah, perancangan kurikulum, dan penyediaan layanan kesehatan seperti yang diterapkan di Australia sangat mungkin diadaptasi di Indonesia jika ada komitmen yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan.

Misi besar ini kian mendapatkan momentum positif melalui jejaring global yang ia bangun. Kolaborasi formal berhasil disepakati antara Unpatti dan Rural Doctors Network (RDN) Australia setelah pertemuan strategis Dokter Farah dengan pimpinan lembaga tersebut di Kanada pada tahun 2022.

Kemitraan internasional ini telah melahirkan inisiatif program perdana di Kabupaten Buru, Maluku pada tahun 2024 yang berfokus memperkuat sistem kesehatan lokal dan model rujukan bagi dokter puskesmas.

Dokter Farah menceritakan tim kolaborasi berhasil turun langsung ke lapangan untuk berdialog secara intensif dengan para dokter setempat guna mengumpulkan berbagai data penting yang dibutuhkan demi keberlanjutan proyek tersebut.

Kini, Dokter Farah bersama rekan-rekannya sedang merintis pembentukan Rural Doctor Network Indonesia di Maluku yang mengadopsi model sukses dari Australia. Langkah ini diambil sebagai respons konkret atas keluhan para dokter di wilayah terpencil yang kerap mengalami isolasi profesional, keterbatasan dukungan, serta minimnya ketersediaan fasilitas medis.

“Para dokter yang mengabdi di pelosok daerah kerap kali menghadapi tantangan luar biasa yang berlapis, mulai dari keterbatasan sumber daya hingga rasa terasing secara profesi. Melalui wadah jaringan dokter layanan primer ini, kita ingin menciptakan sebuah ruang aman di mana para dokter merasa didukung penuh, saling terhubung, dan memiliki kapasitas yang memadai agar tetap teguh mengabdi demi mewujudkan pemerataan akses kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia,” katanya. (MT-01)