AMBON, MalukuTerkini.com – Akademisi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Pattimura (Unpatti), dr. Ritha Tahittu, M.Kes, memberikan sosialisasi pencegahan dan deteksi dini HIV/AIDS kepada ratusan pelajar di SMK Negeri 5 Seram Bagian Barat (SBB).

Edukasi kesehatan yang berlangsung Sabtu (18/7/2026) ini merupakan bagian dari program Pengabdian Masyarakat FK Unpatti guna meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai ancaman virus HIV serta pentingnya pendekatan medis secara tepat.

Langkah edukasi ke sekolah-sekolah ini sangat penting mengingat lonjakan kasus HIV di Indonesia yang kini mulai didominasi oleh kelompok usia remaja.

Berdasarkan data nasional, sekitar 25 persen dari total kasus HIV yang terdeteksi terjadi pada rentang usia 15 hingga 24 tahun, dengan perilaku seksual berisiko dan penggunaan jarum suntik sebagai faktor pemicu utama.

Di wilayah Maluku sendiri, Kota Ambon mencatatkan porsi tertinggi yang menyumbang hampir separuh dari total kasus di daerah tersebut.

Dalam pemaparannya, Ritha Tahittu menjelaskan virus HIV bekerja menyerang sistem kekebalan tubuh, khususnya sel CD4 yang berfungsi sebagai pertahanan utama. Kondisi ini berbeda dengan AIDS yang merupakan stadium akhir dari infeksi tersebut ketika daya tahan tubuh sudah sangat menurun.

“Penularan virus ini sendiri hanya dapat terjadi apabila memenuhi empat syarat biologis secara berurutan yang dikenal dengan rumus ESSE, yakni Exit, Sufficient, Survive, dan Enter,” jelasnya.

Pentingnya pemahaman mengenai masa laten virus juga menjadi perhatian utama akademisi FK Unpatti tersebut.

Ia menegaskan orang yang terinfeksi HIV pada stadium awal kerap kali terlihat sangat bugar dan tidak menunjukkan gejala fisik apa pun selama rentang waktu lima hingga sepuluh tahun.

“Banyak yang merasa aman karena merasa sehat, padahal virus ini bisa bersembunyi bertahun-tahun tanpa gejala. Ini peringatan buat kita untuk lebih mawas diri dalam pergaulan,” ungkap Tahittu di hadapan para siswa.

Tahittu juga mengungkapkan pentingnya memanfaatkan layanan tes kesehatan seperti Voluntary Counseling & Testing (VCT) guna mendeteksi keberadaan virus sejak dini.

“Melalui deteksi cepat, pasien terinfeksi dapat segera mengakses pengobatan terapi Antiretroviral (ARV) secara gratis guna menekan jumlah virus di dalam tubuh. Terapi teratur ini memfasilitasi kondisi Undetectable = Untransmittable (U=U), di mana jumlah virus menjadi sangat rendah sehingga pasien tidak lagi menularkan infeksi kepada orang lain dan dapat beraktivitas secara normal,” ungkapnya.

Melalui sosialisasi ini, ia berharap para siswa SMKN 5 SBB dapat menerapkan prinsip pencegahan komprehensif serta berani mengikis stigma negatif terhadap orang dengan HIV. (MT-01)