TUAL, MalukuTerkini.com – Guna memperkuat peran pendidik dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dari ancaman perundungan serta kekerasan seksual, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Pattimura (Unpatti) menggelar Sosialisasi dan Pelatihan Konseling Dasar Bagi Guru SMA yang berlangsung di SMA Negeri 1 Tual, Kota Tual, Selasa (15/9/2026).

Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut menghadirkan Dosen FK Unpatti, Grace Latuheru, S.Psi., M.Psi., Psikolog, sebagai narasumber utama untuk menggembleng para guru agar memiliki pemahaman dan keterampilan mendalam mengenai pendampingan psikologis awal bagi para siswa.

Dalam pemaparannya, Latuheru menjelaskan konseling merupakan proses profesional yang dirancang untuk membantu siswa memahami diri, mengatasi masalah psikologis, serta mengembangkan potensi diri melalui hubungan yang empatik, terbuka, dan terjamin kerahasiaannya.

“Keberhasilan proses konseling sangat bergantung pada sejauh mana seorang guru mampu membangun rasa percaya diri anak agar mereka berani mengambil keputusan yang tepat. Konseling bertujuan agar anak memiliki kondisi psikis yang terintegrasi dengan baik serta mampu mengubah perilakunya secara sadar ke arah yang lebih positif,” jelas Latuheru di hadapan 34 guru peserta pelatihan.


Ia mengatakan pelatihan ini membekali para pendidik dengan enam modul keterampilan dasar, yang meliputi keterampilan menghampiri siswa atau attending, keterampilan mendengar secara aktif, refleksi isi dan perasaan, teknik bertanya yang efektif, penarikan kesimpulan, hingga teknik mengubah pola pikir atau reframing.

“Sikap non-verbal seperti kontak mata, anggukan kepala, dan empati mendalam sangat penting sebagai fondasi utama dalam menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi remaja,” kata Latuheru yang didampingi Yudith Wacanno, S.H dan Jennifer Brand, S.Psi.

Menurut Latuheru, ketika mendengarkan keluhan siswa, seorang konselor sekolah wajib menghentikan pembicaraan diri sendiri dan memberikan perhatian penuh tanpa menyela.

Guru juga diajarkan cara membedakan pertanyaan terbuka dan tertutup agar siswa dapat mengekspresikan pikiran serta perasaan mereka secara jujur tanpa merasa tertekan.

“Melalui teknik reframing, guru dibimbing untuk membantu siswa mengubah keyakinan irasional menjadi pemikiran rasional, seperti menyadari bahwa setiap aktivitas memiliki peluang salah dan hal itu wajar daripada tidak berbuat sama sekali,” ungkap Magister-Profesi Psikolog lulusan Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya ini.

Selain penyampaian teori dan teknik konseling, pelatihan ini menyimulasikan penanganan berbagai persoalan nyata yang marak dihadapi remaja di lingkungan sekolah.

Kasus-kasus yang dibahas mencakup aksi perundungan fisik dan pemerasan antar-siswa, ejekan verbal terkait kondisi fisik maupun ekonomi, penyebaran foto dan dokumen pribadi di media sosial atau cyberbullying, hingga tindak kekerasan dan pemaksaan kontrol dalam hubungan pacaran usia remaja.

Latuheru juga berharap agar seluruh guru yang mengikuti pelatihan ini mampu menerapkan alur konseling secara terstruktur mulai dari identifikasi masalah hingga tahap evaluasi.

“Keberadaan guru yang terlatih dalam konseling dasar diharapkan mampu mendeteksi secara dini indikasi kekerasan seksual maupun perundungan, sehingga penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat demi melindungi masa depan para siswa di Kota Tual,” ungkap Latuheru yang menulis Buku “Psikologi Komunikasi” di tahun 2024 ini. (MT-01)