AMBON, MalukuTerkini.com – Pemerintah Kota Ambon memperkuat upaya pencegahan kanker serviks melalui peluncuran inovasi SEMPE IVA dengan gerakan Sadar, Ajak, Edukasi dan Periksa IVA, guna mendorong semakin banyak perempuan melakukan deteksi dini dan tidak menunda pemeriksaan kesehatan reproduksi.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Launching dan Talkshow Proyek Perubahan SEMPE IVA bertajuk “Pemberdayaan Perempuan dalam Menurunkan Kanker Serviks di Kota Ambon” yang berlangsung di Swiss-Belhotel Ambon, Kamis (29/10/2026).

Program ini menyasar perempuan, khususnya wanita usia subur, agar lebih peduli terhadap kesehatan reproduksi, memahami pentingnya deteksi dini, serta berani memanfaatkan layanan pemeriksaan untuk mencegah keterlambatan penanganan kanker serviks.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, Johan Stefanus Norimarna, mengatakan pencegahan kanker serviks membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, tidak hanya sektor kesehatan, tetapi juga organisasi perempuan, kader PKK, kader Posyandu, tenaga kesehatan, dan masyarakat.


“Upaya pencegahan kanker serviks tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan semata, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, terutama organisasi perempuan, dalam meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya kesehatan keluarga dan masyarakat,” katanya.

Norimarna menjelaskan, SEMPE IVA merupakan inovasi yang dikembangkan bersama tim sebagai proyek perubahan dalam rangka Pelatihan Kepemimpinan. Inovasi ini lahir dari pemikiran bahwa penyediaan layanan kesehatan harus diikuti edukasi, sosialisasi, dan pendampingan agar perempuan terdorong melakukan pemeriksaan.

“Melalui gerakan tersebut, perempuan diharapkan tidak hanya memahami pentingnya deteksi dini, tetapi juga aktif mengajak keluarga dan orang-orang terdekat untuk memanfaatkan pemeriksaan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) maupun HPV DNA sesuai anjuran tenaga kesehatan,”jelasnya.

Menurutnya, keberhasilan program tidak cukup diukur dari terlaksananya kegiatan atau meningkatnya pengenalan terhadap inovasi tersebut. Hal terpenting adalah perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kesehatan dan memanfaatkan layanan yang tersedia.

“Keberhasilan sebuah inovasi harus diukur dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat. Apakah semakin banyak perempuan yang memahami pentingnya deteksi dini, berani berkonsultasi dan memanfaatkan layanan pemeriksaan, serta memperoleh pelayanan kesehatan yang tepat,” ungkapnya.

Ia berharap SEMPE IVA tidak berhenti sebagai proyek perubahan selama pelatihan, melainkan berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang menjangkau lebih banyak perempuan di Kota Ambon.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Ambon, Ely Toisuta, menyatakan dukungannya terhadap inovasi SEMPE IVA yang digagas Johan Stefanus Norimarna selaku peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XXVIII Tahun 2026.

Ely menegaskan, kesehatan perempuan merupakan investasi penting bagi masa depan keluarga dan masyarakat. Oleh sebab itu, peningkatan kesadaran mengenai deteksi dini kanker serviks perlu menjadi tanggung jawab bersama.

Menurutnya, tantangan pencegahan kanker serviks bukan hanya berkaitan dengan ketersediaan layanan kesehatan, tetapi juga masih adanya rasa takut, malu, keterbatasan informasi, serta persepsi keliru mengenai pemeriksaan kesehatan reproduksi.

“Program SEMPE IVA, yang mengusung gerakan Sadar, Ajak, Edukasi, dan Periksa IVA, harus menjadi gerakan bersama untuk meningkatkan kesadaran perempuan terhadap pentingnya deteksi dini kanker serviks,” kata Ely.

Ia mengajak kader kesehatan dan Tim Penggerak PKK Kota Ambon menjadi ujung tombak edukasi di tengah masyarakat. Informasi mengenai deteksi dini harus disampaikan secara santun dan benar, disertai pendampingan yang membuat perempuan merasa aman untuk memeriksakan diri.

Ely juga meminta tenaga kesehatan memberikan pelayanan secara profesional dan ramah, menghormati privasi pasien, serta menyampaikan informasi menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

Sebagai mentor proyek perubahan tersebut, Ely mengapresiasi inovasi yang dikembangkan Dinas Kesehatan Kota Ambon. Namun, ia mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan program setelah rangkaian pelatihan berakhir.

“Jangan sampai setelah kegiatan ini selesai, programnya juga berhenti. Yang terpenting adalah bagaimana gerakan ini benar-benar menjangkau masyarakat, meningkatkan kesadaran perempuan, dan mendorong mereka untuk berani melakukan pemeriksaan IVA,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua TP PKK Kota Ambon, Lisa Wattimena, menyoroti pentingnya mengubah pola pikir perempuan agar tidak selalu menempatkan kesehatan diri sendiri sebagai prioritas terakhir.

Menurut Lisa, perempuan memiliki peran besar dalam keluarga dan masyarakat, mulai dari mendidik anak, mendampingi suami, hingga menjalankan berbagai aktivitas sosial. Namun, di tengah beragam tanggung jawab tersebut, sebagian perempuan masih menunda pemeriksaan kesehatan karena takut, malu, atau merasa tidak mengalami keluhan.

“Menjaga kesehatan diri bukanlah bentuk keegoisan. Sebaliknya, menjaga kesehatan diri merupakan bagian dari tanggung jawab kita terhadap keluarga yang kita cintai,” ujarnya.

Lisa mengingatkan perempuan agar tidak menunggu munculnya keluhan untuk memeriksakan kesehatan. Deteksi dini menjadi langkah penting untuk mengenali risiko kanker serviks dan menentukan tindak lanjut yang diperlukan.

Ia pun mengajak perempuan memanfaatkan layanan pemeriksaan IVA dan HPV DNA sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. Edukasi kesehatan reproduksi, lanjutnya, perlu disampaikan secara benar, santun, tidak menakut-nakuti, serta tetap menghormati privasi dan keputusan setiap perempuan.

Sebagai Ketua TP PKK Kota Ambon, Lisa mendorong jajaran PKK, kelompok Dasawisma, dan kader Posyandu untuk aktif menyebarluaskan informasi tentang pentingnya deteksi dini kanker serviks.

Ia menilai kedekatan para kader dengan keluarga dan masyarakat dapat menjadi kekuatan untuk menjembatani kebutuhan edukasi dengan akses terhadap pelayanan kesehatan.

“Pesan-pesan yang disampaikan hari ini harus diteruskan kepada keluarga dan lingkungan masing-masing. Sebab, ketika kita berbicara tentang kesehatan perempuan, hal tersebut bukan hanya menjadi urusan perempuan itu sendiri, tetapi tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.

Lisa juga mengajak para suami mendukung istri dalam menjaga kesehatan serta mendorong keluarga membangun komunikasi terbuka mengenai kesehatan reproduksi agar topik tersebut tidak lagi dianggap tabu.

Ia berharap SEMPE IVA dapat berkembang menjadi gerakan nyata hingga tingkat keluarga dan lingkungan terkecil masyarakat, sehingga semakin banyak perempuan memahami pentingnya menjaga kesehatan sejak dini. (MT-04)