AMBON, MalukuTerkini.com – Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat Maluku agar mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) serta pengusaha lokal dalam menyambut pengembangan proyek Gas Blok Masela.

Kesiapan tersebut dinilai penting agar investasi besar yang masuk ke Maluku benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Hal ini ditegaskan JK sapaan akrab Jusuf Kalla saat menjadi pembicara pada Maluku Business Forum 2026 yang digelar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Maluku di Ambon, Minggu (1/11/2026).

Forum bertajuk From Energy Potential to Sustainable Prosperity tersebut mengangkat tema dinamisasi ekosistem energi Maluku melalui optimalisasi potensi hilir bagi industri dan investasi strategis untuk pembangunan nasional berkelanjutan.

JK mengatakan pengembangan proyek Blok Masela tersebut merupakan momentum untuk mengembalikan peran strategis Maluku dalam perekonomian nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Pertanyaannya sekarang, bagaimana Gas Masela ini bisa memberikan manfaat bagi bangsa dan negara, khususnya bagi masyarakat Maluku?” katanya.

Dijelaskan, pemanfaatan gas alam memiliki sedikitnya tiga peluang utama dalam pengembangan industri hilir, yaitu sebagai sumber energi, bahan baku industri pupuk, serta bahan baku industri petrokimia.

“Pengembangan Gas Masela tidak boleh hanya berorientasi pada eksploitasi sumber daya alam dan pembangunan fasilitas produksi. Lebih dari itu, harus ada pengembangan industri turunan yang mampu menciptakan nilai tambah ekonomi di daerah,” jelasnya.

Proyek Masela, menurutnya, diperkirakan membutuhkan investasi sekitar 20 miliar dolar AS atau setara Rp380 triliun, dengan potensi penyerapan sekitar 12.000 tenaga kerja pada tahap konstruksi.

“Dengan target produksi pada 2030, Maluku masih memiliki waktu untuk mempersiapkan tenaga kerja lokal agar memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri minyak dan gas bumi. Untuk itu, pemerintah daerah bersama perguruan tinggi diminta segera mengambil langkah konkret melalui pendidikan vokasi, pelatihan teknis, serta program magang di daerah yang telah berpengalaman dalam pengelolaan industri gas,” ungkapnya.

JK mengingatkan, Maluku tidak boleh mengulangi pengalaman sejumlah daerah lain ketika industri migas berkembang, tetapi masyarakat lokal justru tidak mampu mengambil bagian dalam pekerjaan strategis karena keterbatasan keahlian.

“Jangan sampai ketika proyek sudah berjalan, justru tenaga kerja dari luar daerah yang mendominasi karena masyarakat lokal tidak memiliki kemampuan dan keahlian yang dibutuhkan,” tandasnya.

Selain kesiapan tenaga kerja, JK juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas pengusaha lokal agar dapat mengambil bagian dalam berbagai peluang ekonomi yang terbuka melalui proyek Gas Masela.

“Proyek berskala besar tersebut akan membutuhkan berbagai jenis pekerjaan dan layanan, mulai dari konstruksi, pekerjaan sipil, jasa perawatan teknologi, transportasi, penyediaan perumahan hingga kebutuhan konsumsi dan pelayanan lainnya. Peluang itu, harus dimanfaatkan perusahaan-perusahaan lokal dengan meningkatkan kapasitas usaha, memperkuat permodalan, serta membangun kerja sama dengan perusahaan nasional maupun internasional yang memiliki kemampuan teknologi tinggi,” ungkapnya.

Ia menegaskan, keterbatasan kemampuan teknis pengusaha lokal saat ini tidak boleh menjadi alasan untuk tidak mempersiapkan diri.

“Pemerintah perlu mendorong pola kemitraan sehingga perusahaan daerah dapat terlibat sebagai subkontraktor maupun penyedia barang dan jasa dalam rantai industri Gas Masela.  Jangan sampai perusahaan dari luar daerah datang, mengambil seluruh pekerjaan, sementara pengusaha lokal hanya menjadi penonton,” tandasnya. (MT-04)