AMBON, MalukuTerkini.comn – Ketua Senat Universitas Pattimura (Unpatti), Prof. Dr. Tonny D. Pariela, M.A., menegaskan pentingnya lulusan perguruan tinggi dan lembaga akademis untuk mewaspadai fenomena “ilusi pengetahuan” yang marak terjadi di era digital dan demokrasi modern saat ini.

Fenomena patologis sosial di era post-truth politics tersebut kerap membuat kompetensi keilmuan para akademisi diuji dan ditantang oleh masyarakat umum.

Hal tersebut disampaikan Pariela saat memimpin Rapat Terbuka Luar Biasa Senat Universitas Pattimura dalam rangka Wisuda Sarjana, Profesi, Magister, dan Doktor periode Juli 2026 yang berlangsung di Auditorium Unpatti, Ambon, pada Rabu (29/7/2026).

Dalam pidatonya, Pariela menjelaskan fenomena di era digital ini merupakan kenyataan yang lumrah terjadi, namun harus direspon secara proporsional agar tidak berkelanjutan.

“Langkah tersebut penting dilakukan guna menjaga stabilitas masyarakat sekaligus menciptakan lingkungan sosial yang edukatif,” jelasnya.

Menurutnya, kesadaran diri untuk terus menjadi seorang pembelajar sepanjang hayat (long life education) secara terencana dan sistematis merupakan kunci utama, dengan selalu mengandalkan sumber-sumber pembelajaran yang valid, dapat dipercaya, serta bertanggung jawab.

Ia mengingatkan kepada para wisudawan bahwa ijazah dan hasil pendidikan yang diraih saat ini baru merupakan titik awal dari perjalanan panjang yang masih membentang di masa depan.

“Dengan demikian, anda dan tentu kita semua tidak terjebak dalam ilusi pengetahuan, tetapi sekaligus kita pun berusaha menjadi netralisator terhadap gejala patologis sosial dimaksud,” ungkapyna.

Ia menyoroti penanganan terhadap tantangan sosial era digital ini juga perlu dilakukan melalui pendekatan institusional.

“Perguruan tinggi dituntut untuk mempertajam fungsi dan perannya dalam menghadapi transisi dari era Revolusi Industri 4.0 menuju era Revolusi Industri 5.0,” ujarnya.

Mengutip pemikiran Nancy Gleason dalam buku Higher Education in the Era of the Fourth Industrial Revolution, Pariela menegaskan perguruan tinggi saat ini sudah tidak lagi cukup hanya berfungsi sebagai tempat transfer pengetahuan semata, mengingat akses informasi dan ilmu pengetahuan kini dapat diperoleh secara instan melalui teknologi.

“Perguruan tinggi perlu melakukan transformasi menjadi ekosistem pengembangan keterampilan adaptif, inovatif, dan pembentukan karakter manusia yang tidak dapat digantikan oleh mesin seperti kecerdasan buatan atau algoritma,” tandasnya.

Pariela juga optimis Unpatti saat ini sedang menjalani proses transformasi tersebut dan telah berada pada jalur yang tepat. Untuk mencapai tujuan bersama dalam proses transformasi kampus,

ia mengharapkan adanya umpan balik yang konstruktif, terutama dari para alumni serta pemangku kepentingan lainnya, yang dipastikan akan selalu disambut dengan terbuka oleh pihak universitas. (MT-01)