AMBON, MalukuTerkini.com – Empat akademisi dan peneliti internasional membagikan pengalaman inspiratif mereka dalam mengarungi dunia riset global pada acara talk show bertajuk “Global Overseas Indonesia: Kontribusi Diaspora Indonesia untuk Kemajuan Ilmu Pengetahuan”.
Talk Show yang digagas oleh Russian Corner Universitas Pattimura (Unpatti) ini digelar di Aula Rektorat Unpatti, Ambon, Selasa (4/8/2026).
Dalam forum tersebut, para narasumber menyoroti pentingnya penguasaan bahasa asing, kedisiplinan belajar, hingga keberanian mengambil bidang keilmuan yang langka sebagai modal utama diaspora untuk berkontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan Indonesia.
Kepala International Office Unpatti, Jonny Latuny, M.Eng, PhD, memaparkan perbedaan mendasar iklim akademik di negara-negara Anglo-Saxon dibandingkan dengan Indonesia.

Menurutnya, hubungan antara dosen dan mahasiswa di luar negeri tidak kaku seperti hamba dan tuan, sehingga mahasiswa dilatih untuk lebih maju tanpa rasa tertekan.
“Di luar negeri, mahasiswa berebutan untuk bertanya karena kehidupan akademiknya sangat menunjang. Berbeda dengan di Indonesia yang kerap kali mahasiswanya pasif dan tidak bertanya usai dosen mengajar,” ungkap Jonny yang menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Curtin University – Australia, pada departemen Mechanical Engineering.
Ia menambahkan penguasaan bahasa lokal di negara tujuan menjadi kunci utama agar seorang akademisi dapat berbaur dan dianggap seperti warga setempat.
Sementara itu, Guru Besar Fisika Nanosains dan Nanoteknologi Unpatti, Prof. Henry Elim, PhD, membagikan kisah perjuangannya saat menempuh studi doktoral di Singapura. Berasal dari latar belakang yang sederhana di Ambon tidak membatasi dirinya untuk menjadi lulusan terbaik di negara yang sangat maju dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).
Henry Elim yang meraih gelar Doctor of Philosophy (Ph.D) dalam bidang Fisika dari National University of Singapore pada tahun 2005 ini menceritakan walaupun mengawali studi doktoral pada usia 32 tahun—lebih tua dibanding rekan-rekannya—ia terus mengasah pengetahuan, menjaga keteguhan emosional, serta memelihara kepercayaan kepada Tuhan.
“Kerja keras dan semangat riset mandiri saat menemui ketidakpahaman akhirnya mengantarkan beliau menjadi lulusan terbaik, hingga mendapat tawaran riset lanjutan di Singapura dan Jepang,” ungkap Henry Elim yang merupakan satu-satunya ilmuwan internasional asal Maluku yang mencatatkan pencapaian luar biasa dengan meraih lebih dari 3.000 sitasi di Scopus.
Pengalaman berharga lain datang dari peneliti Arctic-Antarctic Research Institute/Saint Petersburg State University, Ir. Gerry Utama, S.Si, M.Sc.
Orang Indonesia dan ASEAN pertama yang mengikuti Ekspedisi Antartika Rusia itu menceritakan pengalamannya dalam Ekspedisi Vostok di benua es tersebut. Ia menegaskan keikutsertaan dalam ekspedisi global merupakan sarana penting untuk meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan.
Gery yang menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada (UGM) dan kemudian melanjutkan studi magister jurusan Paleogeografi Kuarter di Saint Petersburg State University – Rusia ini menyarankan para mahasiswa yang ingin melanjutkan studi ke Rusia untuk mengambil bidang keilmuan yang belum ada di dalam negeri.
“Bidang langka tersebut nantinya akan sangat dicari oleh Indonesia di masa depan. Ia juga menggarisbawahi pentingnya penguasaan bahasa dan budaya Rusia karena budaya belajar selalu berasosiasi erat dengan bahasa sebagai upaya mengkapitalisasi iptek,” ungkap penerima penghargaan MURI sebagai insan Indonesia termuda yang berhasil mencapai dan melakukan riset di Benua Antartika ini.
Melengkapi perspektif mengenai Rusia, Kepala Russian Corner Unpatti, David Kermite, S.Pt., M.Sc, menegaskan kunci menguasai dunia adalah dengan menguasai bahasa.
Ia menggambarkan budaya masyarakat Rusia yang sangat disiplin dan berfokus pada membaca, di mana anak-anak sekolah jarang ditemukan berkeliaran pada jam pelajaran.
“Sistem pendidikan di Rusia menerapkan kedisiplinan yang sangat ketat, mulai dari seleksi beasiswa, ketersediaan soal ujian yang selalu berbeda untuk tiap mahasiswa, hingga ketepatan waktu para dosen yang hadir lebih awal di kelas,” ungkap David Kermite yang menyelesaikan pendidikan magister di University of Russia ini.
Ia berpesan agar calon mahasiswa yang ingin berkuliah di Rusia membuang kebiasaan membuang waktu dan menumbuhkan hobi membaca sejak dini. (MT-01)
