Sekilas Info

Kembali Zona Merah, Ini Langkah Satgas Covid-19 Ambon

Ilustrasi

AMBON – Hasil eveluasi Satgas Covid-19 Pusat terhitung Minggu (14/2/2021) kembali menetapkan Kota Ambon kembali masuk dalam zona merah (resiko tinggi) zonasi resiko daerah penyebaran Covid-19.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Kota Ambon, Joy Adriaansz mengatakan, penurunan drastis terhadap total skoring zonasi Kota Ambon terhitung 7 - 14 Februari 2021  yang disebabkan oleh meninggalnya pasien yang terkonfirmasi Covid-19.

"Jumlah skoring zonasi Kota Ambon pada 7 Februari 2021 itu 2,07 dan masih berada di zona oranye (resiko sedang). Namun beberapa hari terakhir ini sudah lebih dari tiga orang meninggal dunia akibat Covid-19, makanya data skoring per 14 Februari 2021 menurun drastis  ke angka 1,76, atau telah masuk Zona Merah (resiko tinggi). Jadi Kota Ambon kembali masuk ke zona merah disebabkan karena meningkatnya angka kematian," ungkap Adriaansz kepada malukuterkini.com melalui telepon selulernya, Rabu (17/2/2021).

Ia menjelaskan, untuk kembali ke zona oranye pihaknya akan tegas lagi terhadap protokol kesehatan.

"Operasi Yustisi Pendisiplinan Protokol Kesehatan tetap kita galakkan dan dilakukan langkah-langkah penegasan. Jadi untuk masyarakat yang tidak taat dalam menggunakan masker dan protokol kesehatan lainnya, tetap lakukan rapid test," jelasnya.

Tak hanya itu,  katanya, bagi kendaraan yang lebih khusus untuk kendaraan umum maupun kendaraan pribadi untuk roda empat, selain dilakukan teguran tapi juga dilakukan sanksi sosial.

“Dinas Kesehatan melalui puskesmas-puskesmas saat ini juga telah melakukan rapat koordinasi dengan seluruh perangkat di kelurahan, desa, RT/RW untuk mensinergikan terkait dengan penerapan protokol kesehatan di tingkat desa kelurahan. Langkah-langkah itu diantaranya adalah salah satunya adalah melakukan identifikasi terhadap masyarakat yang kedapatan mereka dalam kondisi sakit namun tidak dirujuk ke fasilitas kesehatan,” kata Adriaansz.

Menurutnya, langkah itu dilakukan karena salah satu persoalan terkait dengan zonasi mengalami penurunan adalah karena sebagian pasien yang dirujuk ke rumah sakit itu sudah dalam kondisi yang yang parah.

“Para pasien tersebut ketika dirawat ada yang sebagian besar itu dirawat dalam kondisi yang memang sudah tidak sadar begitu sehingga memang untuk langkah-langkah penanganan yang dilakukan secara medis itu agak sulit sehingga terjadi peningkatan angka kematian. Olehnya itu, seluruh Puskesmas melakukan langkah-langkah itu melakukan identifikasi terhadap masyarakat yang ternyata mereka sakit namun tidak dirawat di rumah sakit atau di Fasilitas Kesehatan terdekat," ungkapnya. (MT-05) 

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!