SAUMLAKI, MalukuTerkini.com – Ledakan granat menewaskan tiga warga Desa Atubul Dol, Kecamatan Wertamrian, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Minggu (15/3/2026) malam.
Peristiwa bermula saat seorang warga, Leonora Batmianik, menemukan benda mencurigakan di kebun yang diduga merupakan granat aktif.
Benda tersebut kemudian terbawa pulang oleh seorang anak menggunakan bakul kebun.
Kendati sempat diperingatkan agar tidak dibawa karena berbahaya, granat itu tetap sampai di rumah keluarga Romroman. Saat dipastikan keberadaannya, warga sempat menyarankan agar benda tersebut dibuang.
Namun situasi berubah fatal ketika Rafael Romroman justru mencoba menarik sumbu granat di dapur rumahnya. Akibat tidak berhasil, granat itu diberikan kepada anaknya, Eduardus Romroman. Tak lama kemudian, granat meledak di dalam rumah.
Akibatnya, Rafael tewas di tempat, sementara Eduardus mengalami luka berat dan kemudian meninggal. Satu lainnya yaitu Afia Romroman/Batmianik yang juga istri dari Rafael meninggal di RSUD PP Magretti Saumlaki, Selasa (17/3/2026) malam. Empat warga lain yang turut menjadi korban luka akibat serpihan ledakan granata juga masih dirawat di RSUD PP Magretti Saumlaki
Menyikapi hal tersebut, Komandan Brigif 27/Nusa Ina, Kolonel Inf Sri Widodo mengaku peristiwa tersebut bukan akibat kelalaian namun karena area latihan militer yang belum sepenuhnya dinyatakan aman.
“Granat yang meledak diduga merupakan sisa amunisi latihan mortir yang mengalami gagal ledak (misfire) saat kegiatan latihan satuan TNI yang berlangsung di wilayah tersebut 8 – 9 Maret 2026. Setiap selesai latihan, prosedur standar kita adalah melakukan penyisiran dan pembersihan. Namun pada lokasi ini proses tersebut masih berlangsung dan belum sepenuhnya tuntas,” ungkap Kolonel Sri Widodo di Saumlaki, Selasa (17/3/2028) malam.
Dijelaskan, dari total 198 amunisi yang digunakan dalam latihan, terdapat satu yang tidak meledak. Selain itu, dalam penyisiran awal juga ditemukan beberapa sisa amunisi lain yang belum aktif secara sempurna di sekitar lokasi latihan.
“Area tersebut sebenarnya belum dinyatakan clear atau aman untuk aktivitas masyarakat. Karena itu, kita menyayangkan adanya warga yang masuk ke lokasi dan tanpa sengaja membawa pulang granat ke rumah. Area latihan belum dibuka untuk umum. Ada prosedur yang sedang berjalan dan belum selesai saat kejadian terjadi,” jelasnya.
Kendati demikian, TNI menyampaikan duka mendalam atas jatuhnya korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
“Kira juga memastikan telah mengambil langkah cepat untuk membantu para korban, baik yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka. Kami hadir dan bertanggung jawab secara moral. Bantuan pengobatan, dukungan melalui BPJS, hingga proses pemakaman sudah kami fasilitasi,” katanya.
Ia mengaku telah mengerahkan tim khusus untuk melakukan penyisiran ulang secara menyeluruh di lokasi latihan.
“Proses ini melibatkan tim penjinak amunisi dengan menggunakan metal detector serta metode penyisiran manual mengingat kondisi medan yang tertutup vegetasi,” ungkapnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak memasuki area bekas latihan militer sebelum dinyatakan aman oleh otoritas berwenang.
“Warga harus segera melapor jika menemukan benda mencurigakan yang diduga sisa amunisi. Kami mohon kerja sama masyarakat. Jangan disentuh atau dipindahkan. Segera laporkan agar bisa ditangani oleh petugas,” ujarnya. (MT-06)
