TUAL, MalukuTerkini.com – Membentengi generasi muda dari ancaman kekerasan seksual yang kian memprihatinkan di wilayah kepulauan, Tim Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Pattimura (Unpatti) yang dipimpin Grace Latuheru, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menggelar Sosialisasi dan Pelatihan Konseling Dasar bagi Guru SMA Negeri 1 Tual, Selasa (15/9/2026).
Program Pengabdian pada Masyarakat FK Unpatti ini ditujukan untuk memperkuat kapasitas para tenaga pendidik agar mampu berdiri di garis terdepan sebagai konselor sekolah yang responsif, terampil, serta sigap dalam menekan angka kekerasan terhadap remaja.
“Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilatarbelakangi oleh maraknya temuan kasus kekerasan di daerah tersebut,” ungkap yang didampingi Yudith Wacanno, S.H dan Jennifer Brand, S.Psi.
Ia merincikan, Data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) mencatat terdapat 103 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Tual sepanjang rentang waktu 2022 hingga 2024, yang kemudian disusul dengan tambahan lima kasus baru hingga April 2025.
“Angka ini disinyalir hanyalah fenomena gunung es dari situasi riil di lapangan,” rinci Magister-Profesi Psikolog lulusan Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya ini.

Dijelaskan, dinamika sosial di kawasan kepulauan seperti Kota Tual menciptakan kompleksitas tersendiri yang memperbesar risiko kekerasan pada kelompok remaja.
“”Persoalan mendasar berakar dari masih rendahnya literasi kesehatan reproduksi masyarakat serta kuatnya budaya tabu yang menghambat dialog terbuka mengenai seksualitas. Situasi tersebut kian diperparah oleh minimnya pengawasan orang tua terhadap penggunaan gawai oleh anak, hadirnya relasi kuasa yang memosisikan pelaku di atas korban, hingga maraknya fenomena underreporting akibat ketakutan korban terhadap stigma sosial yang melekat di lingkungan sekitar,” jelasnya.
Ia memaparkan berbagai hasil penelitian terdahulu mengonfirmasi tingkat pengetahuan serta persepsi remaja mengenai isu seksualitas masih berada pada kategori sedang dan cenderung tertutup.
“Keterbatasan pemahaman di tingkat siswa ini berkorelasi erat dengan sejauh mana kesiapan serta keberanian pendidik dalam mengedukasi mereka,” kata Latuheru yang menulis Buku “Psikologi Komunikasi” di tahun 2024 ini.
Oleh karena itu, jelas Latuheru, intervensi berbasis sekolah menjadi instrumen yang sangat krusial mengingat lembaga pendidikan memegang posisi paling strategis untuk melakukan upaya pencegahan sekaligus deteksi dini.
“Selama ini peran bimbingan dan konseling di sekolah sering kali belum berjalan optimal karena keterbatasan jumlah personel guru BK, ditambah lagi dengan fokus layanan yang masih terbebani oleh urusan-urusan administratif. Padahal, guru BK merupakan aktor kunci yang memegang peranan amat vital dalam mendeteksi dan merespons setiap tanda-tanda bahaya kekerasan seksual pada anak didik,” ujar Grace di sela-sela kegiatan pelatihan,” jelas Latuheru yang pernah meneliti “Hubungan Penggunaan Media Sosial Dengan Perilaku Seksual Pada Remaja di Kecamatan Sirimau Kota Ambon” di tahun 2025 ini.

Latuheru mengaku sebagian besar guru di sekolah sesungguhnya menyadari ancaman tersebut, namun guru kerap merasa tidak percaya diri saat harus berhadapan langsung dengan kasus nyata.
“Banyak pendidik yang belum pernah mengecap pelatihan penanganan berbasis trauma (trauma-informed care), kerap dibebani tugas ganda di luar fungsi konseling, serta bekerja tanpa didukung oleh Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan korban yang jelas dan terstruktur di lingkungan sekolah. Ketidaksiapan sistem pendukung di sekolah ini membawa dampak jangka panjang yang fatal bagi psikologis korban,” ungkap Latuheru yang pernah meneliti tentang Hubungan Konformitas Teman Sebaya dan Kontrol Diri dengan Perilaku Seksual Pada Remaja di Kecamatan Leitimur Selatan Kota Ambon” di tahun 2024 ini.
Studi mengenai penguatan keterampilan konseling, jelasnya. membuktikan bahwa remaja yang menjadi korban kekerasan seksual tanpa pendampingan yang tepat sangat rentan mengalami trauma psikologis berlarut-larut, kecemasan tingkat tinggi, penderitaan mental berkepanjangan, hingga berujung pada keputusan untuk putus sekolah.
“Hal inilah yang mendorong FK Unpatti untuk merancang intervensi khusus guna membekali para pendidik dengan kualifikasi konseling dasar yang memadai. Kami merancang pelatihan ini sebagai solusi konkrit atas berbagai keterbatasan tersebut. Melalui penguatan kapasitas ini, para guru dilatih untuk memiliki keterampilan konseling profesional yang peka trauma, sehingga mereka tidak hanya mampu mengedukasi siswa secara tepat, tetapi juga sanggup memberikan pertolongan pertama psikologis yang aman bagi korban,” jelas Latuheru yang menulis buku Psikologi Remaja terbitan tahun 2024 ini.
Pelatihan yang berlangsung secara interaktif ini membekali peserta dengan teknik-teknik pendampingan emosional, metode komunikasi empati, pemahaman dinamika psikologis remaja, hingga tahapan penyusunan alur rujukan serta penanganan kasus yang terstandar. (MT-01)
