AMBON, MalukuTerkini.com – Fakultas Pertanian (FAPERTA) Universitas Pattimura (Unpatti) menggelar kuliah umum bertajuk “Sagu Sebagai Basis Ketahanan Pangan dan Perekonomian Desa di Maluku”.

Kuliah Umum yang dipusatkan di Auditorium FAPERTA Unpatti, Ambon, RAbu (25/2/2026) itu menghadirkan dua narasumber yaitu Tamran Ismail SSi SFarm MP (Kepala Balai Pengawas Obat dan Makanan di Ambon) dan Dr Raja Milyaniza Sari SP MSi (Dosen Prodi Agribisnis FAPERTA Unpatti).

Kuliah Umum dipandu moderator Dr Junianita F Sopamena, SP MSi (Dosen Prodi Penyuluhan Pertanian FAPERTA Unpatti).

Tamran Ismail saat menyajikan materi bertajuk “Sinergitas ABG
(Academia, Business dan Government) Dalam Hilirisasi Produk Sagu di Provinsi Maluku” mengatakan sagu sebagai pangan lokal strategis dan sumber karbohidrat aklternatif dapat menjawab tantangan pangan masa depan

“Untuk itu hilirisasi diperlukan untuk meningkatkan daya saing dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Ia juga memaparkan konsep hilirisasi sagu yang merupakan transformasi bahan baku menjadi produk bernilai tambah.

“Transformasi itudiawali dengan diversifikasi produk pangan dan non-pangan yang kemudian dilanjutkan dengan standarisasi mutu dan keamanan pangan serta didukung oleh penguatan rantai pasok dan akses pasar. Saat ini hilirisasi sagu yang sudah dilakukan misalnya Mie Sagu Instan diantaranya seperti produk Mie Sagu Cempaka, Mie Sagu Waraka dan Mie Sagu Rutong. Ada juga Beras Analog misalnya Beras Sagu Waraka,” ungkapnya.

Kendati demikian, ia mengatakan, hilirisasi sagu juga diperhadapkan dengan sejumlah tantangan seperti Skala Produksi dan Konsistensi Mutu; Standarisasi Keamanan Pangan dan Sertifikasi; Akses Pembiayaan dan Teknologi Proses serta Branding dan Penetrasi Pasar Nasional/Ekspor.

“Sinergitas hilirisasi produk sagu di Provinsi Maluku dapat memaksimalkan peraan Academia, Business dan Government. Academia berperan dalam melalukan penelitian ilmiah terkait pemanfaatan sagu dan potensinya sebagai sumber pangan alternatif. Kalangan Business berperan dalam sebgai ‘Orang Tua Angkat’ dengan melakukan Udukasi dan Bimbingan Teknis; Permodalan; Promosi, Pameran, dan Digitalisasi Pemasaran; Pendampingan Penerbitan CPPOB dan Penerbitan Nomor Izin Edar; Bantuan Pengadaan Peralatan atau Biaya Pengujian Porduk srta Praktek Kerja Lapangan/Magang Industri. Sedangkan Government berperan dalam pendampingan pelaku usaha pangan olahan,” kata Tamran.

Sementara itu, Dosen Prodi Agribisnis FAPERTA Unpatti Dr Raja Milyaniza Sari SP MSi saat menyampaikan materinya bertajuk “Sagu Sebagai Basis Ketahanan Pangan dan Perekonomian Desa” mengatakan sagu sebagai basis perekonomian desa bukan sekadar tanaman atau makanan, tetapi menjadi fondasi aktivitas ekonomi, sumber pendapatan utama, dan penggerak sistem sosial di desa.

“Jika sagu menjadi basis ekonomi desa maka sebagia besar rumah tangga terlibat dalam ranti nilainya; ada aktivitas produksim pemngolahan dan pemasaran’ sirkulasi uang terjadi di dalam desa serta nilai tambah tidak keluar sepenuhnya,” katanya.

Dijelaskan, setiap bagian tanaman sagu—empulur, kulit batang, ampas, daun, hingga limbah cair—memiliki fungsi ekonomi, sosial, dan ekologis yang saling terkait, sejalan dengan prinsip zero waste dan ekonomi sirkular.

“Pemanfaatan sagu secara menyeluruh memungkinkan pengembangan beragam produk, mulai dari pangan, energi terbarukan, pakan ternak, hingga kerajinan dan bahan bangunan ringan, sehingga memperkuat posisi sagu sebagai komoditas strategis berbasis sumber daya lokal,” jelasnya.

Sari juga menegaskan jika sagu hanya kuat di dimensi ekonomi tetapi lemah di sosial dan politik, maka akan rentan dikuasai aktor luar.

“Jika kuat di sosial tetapi lemah di ekonomi, akan bertahan sebagai budaya, bukan sebagai sistem penghidupan. Jika kuat di ekologis tetapi tidak memberi insentif ekonomi, maka tekanan konversi lahan akan tetap tinggi,” tandasnya.

Menurutnya, Maluku, khususnya Kabupaten Seram Bagian Timur memiliki potensi sagu sangat besar, namun tingkat pemanfaatannya dan akses pasar  rendah.

“Pengembangan hilirisasi sagu akan memperkuat ketahanan dan perekonomian desa di Maluku hendaknya merupakan strategi pembangunan wilayah terpadu, dan bukan sekadar proyek industri. Hilirisasi sagu memerlukan waktu untuk eksis, pembiayaan dan keberpihakan pemerintah,” ungkapnya. (MT-01)