AMBON, MalukuTerkini.com – Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) Pendeta Sacharias Izack Sapulette mengajak perangkat pelayan maupun umat di Klasis GPM Pulau Ambon Timur untuk jujur terhadap realitas pelayanan.
Hal itu ia ungkapkan saat menyampaikan khotah pada ibadah pembukaan Sidang ke-14 Klasis Gereja Protestan Maluku (GPM) Pulau Ambon Timur mulai digelar di Jemaat GPM Halong Anugerah, Ambon, Minggu (1/3/2026).
“Hari ini kita berada pada momentum yaitu Minggu Sengsara Yesus Ketiga dan juga pembukaan Sidang ke-14 Klasis GPM Pulau Ambon Timur. Momentum Minggu sengsara, mengajak kita untuk merenungkan penderitaan Kristus sedangkan Sidang Klasis mengajak kita untuk mengevaluasi dan menata perjalanan pelayanan gereja pada masa pelayanan yang baru,” ungkapnya.
Dikatakan, pada dua momentum ini, firman Tuhan yang dibaca pada saat ini yang berasal dari Ratapan 3:19-33 mengajak untuk jujur terhadap realitas pelayanan.
“Gereja-gereja sedunia maupun persekutuan gereja-gereja di Indonesia juga menghadapi berbagai krisis. Gereja juga tidak bebas dari tekanan. Ada jemaat yang bergumul dalam tekanan ekonomi. Ada warga jemaat yang mengalami kepahitan dalam hidup karena berbagai-berbagai persoalan. Ada krisis yang terjadi dalam keluarga-keluarga Kristen, ada krisis kepercayaan bagi para pelayan, dan lain-lain. Ratapan 3:19-33 mengajarkan kita untuk jujur terhadap realitas pelayanan yang ada. Kejujuran adalah langkah pertama menuju pemulihan. Sidang klasis bukan hanya forum untuk melaporkan kesuksesan, tetapi juga ruang untuk mengakui kelemahan, ruang untuk mengakui keterbatasan, ruang untuk terbuka mengakui ada krisis yang kita hadapi. Ada krisis yang kita hadapi dalam keluarga-keluarga beriman, warga gereja kita,” tandasnya.
Sidang Klasis ini, katanya, menjadi ruang untuk terbuka terhadap realitas sesungguhnya yang dihadapi agar dievaluasi, dan keterbukaan ini menjadi fondasi untuk memulihkan, fondasi untuk bangkit menata strategi baru guna memperbaiki keadaan.
“Pesan pertama dari firman Tuhan pagi ini, agar kita jujur terhadap realitas. Jujur terhadap realitas yang dihadapi menjadi pintu menuju perbaikan,” katanya
Pesan yang kedua menurut Pendeta Sapulette yatu dalam krisis yang mengakibatkan luka dan kepahitan, ingatlah akan kasih setia Tuhan.
“Di tengah ingatan akan luka, akan derita, penulis Ratapan ini mengingat kasih setia Allah. Itulah iman. Iman bukan berarti tidak merasa sakit, iman bukan berarti tidak mengalami tantangan. Beriman berarti tidak membiarkan krisis ataupun tantangan itu menjadi pusat ingatan kita, melainkan kasih setia Allah. Boleh saja kita menghadapi tantangan, bahkan krisis sekalipun. Tetapi krisis itu bukan menjadi pusat dari ingatan kita. Ingatan kita haruslah berpusat pada kasih setia Allah. Di minggu sengsara ini kita diingatkan bahwa Yesus yang menjalani jalan derita sampai tersalib. Dari teks ini mengajak kita untuk tidak berhenti hanya mengingat salib, melainkan ingatlah bahwa sesudah itu Ia juga bangkit dan menang. Ia dimuliakan Allah,” ungkapnya.
Dikatakan, pesan ketiga yaitu jadikan Tuhan bagian penting dari seluruh perencanaan hidup, dan pelayanan.
“Letakkan seluruh pengharapan kita kepada-Nya, saudaraku kekasih. Penulis Ratapan meyakini Tuhan tidak selamanya meninggalkan kita. Tuhan tidak selamanya mengucilkan umat-Nya, dan ini pengharapan besar bagi kita. Ia sesekali bisa mendisiplinkan kita karena ketidaktaatan kita. Ia dapat membentuk kita melalui penderitaan, tetapi Ia tidak menindas kita dan tidak selama-lamanya Ia meninggalkan kita,” katanya.
Menurut Pendeta Sapulette, Ratapan 3:19-33 mengajarkan umat bisa saja terluka dan menangis dalam pelayanan ini, tetapi tidak boleh kehilangan harapan.
“Baiklah pelayan, kita bersidang di dalam pengharapan. Apapun krisis yang kita hadapi saat ini, kasih setia Allah selalu ada bagi kita. Di atas dasar pengharapan itu kita bersidang, untuk memutuskan rencana pengembangan pelayanan ke arah yang lebih baik. Kita putuskan program yang relevan untuk memberdayakan umat, mengatasi krisis yang dihadapi, dan kita pastikan dalam seluruh keputusan persidangan ini kita menjadi gereja yang hadir memberi harapan dan kasih Tuhan kepada jemaat dan kepada masyarakat melalui pelayanan kita bersama,” ungkapnya.
Ibadah pembukaan Sidang ke-14 Klasis GPM Pulau Ambon Timur juga dihadiri Wali Kota Ambon Bodewin M Wattimena, Ketua DPRD Kota Ambon Morits Tamaela, Ketua Klasis GPM Pulau Ambon Timur Pendeta Hendrik James Elath dan Rektor IAKN Ambon Yance Z Rumahuru serta delegasi dari seluruh jemaat di klasis tersebut. (MT-01)




Tinggalkan Balasan