AMBON, MalukuTerkini.com – Kabar membanggakan kembali datang dari anak bangsa di panggung akademik internasional.
Kabar ini, datang dari Muhammad Afandi Angkotasan, alumnus sekolah kedinasan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Angkatan 29.
Afandi, diketahui baru saja menyelesaikan pendidikan S2 Administrasi Public (Master of Public Administrator) di Universitas of York melalui beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Ia resmi diwisuda pada Jumat, 17 Juli 2026 lalu waktu Inggris.
Pada wisuda itu, Afandi terpilih menjadi Student Orator atau mahasiswa yang menyampaikan pidato kelulusan saat prosesi wisuda. Saat menyampaikan pidato ia bercerita tentang masa kecil di Negeri Pelauw, Maluku Tengah, momen kuliah di University of York, hingga memperkenalkan lagu Tanah Airku.
Pencapaian ini akhirnya diketahui oleh Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto. Melalui postingan Instagram pribadinya, Bima membagikan momen berkenalan dan menghubungi Afandi.
“Berita membanggakan alumni IPDN jadi student orator di York University. Ini katanya alumni IPDN angkatan 29,” ungkapnya dikutip dari postingan Instagram, Sabtu (1/8/2026).
Saat menghubungi Afandi, Bima menyebut Indonesia bangga melihat pencapaian yang diraihnya. Bima juga menanyakan bagaimana proses Afandi bisa terpilih jadi student orator.
Menjawabnya, Afandi menyebut ada seleksi tingkat departemen yang harus dilalui mahasiswa agar bisa menjadi student orator. Ketika ditanya, berapa banyak saingan dalam seleksi tersebut, Afandi menyebut jumlahnya ratusan.
“Student orator itu dia diseleksi setiap departemen. Pada saat terakhir pada pengumuman itu, saya dikasih info itu ada ratusan,” ungkap Afandi.
Dalam kesempatan itu, Bima mengapresiasi penyampaian bahasa Inggris Afandi yang sangat baik. Afandi menyatakan ia belajar bahasa Inggris saat masih menjadi praja di IPDN.
“Alhamdulillah kurikulum di IPDN tuh banyak mendukung saya belajar bahasa Inggris,” ujarnya.
IPDN memang menyiapkan para praja dalam berbicara bahasa Inggris. Namun, Afandi punya trik tersendiri agar bisa percaya diri dan lancar berbicara bahasa Inggris.
“Sebenarnya saya berlatih sedari di IPDN, berlatih tipis-tipis lah istilahnya. Saya biasanya sambil jalan terus saya ngomong sendiri tapi pas ada orang saya stop,” ungkap Afandi lagi.
Saat menyampaikan pidato, Afandi sempat menyebut pepatah dari Maluku yakni ‘alumiye umie, seiya nyie inyie’. Ia menjabarkan bila pepatah tersebut berasal dari kampungnya, Negeri Pelauw, Maluku dengan bahasa Hatuhaha.
Pepatah itu sesuai dengan nilai yang Afandi pegang. Ia percaya setiap orang terlahir sudah dengan rezekinya masing-masing.
“Dari kecil kebetulan saya di kampung. Saya selalu percaya bahwa, walaupun sesulit apa pun, saya akan tetap berusaha untuk masa depan saya,” tandasnya.
Usai selesai belajar di University of York, Afandi akan kembali di Indonesia dan lakukan pengabdian sesuai ketentuan LPDP. Bima menyatakan akan menunggu kepulangan Afandi dan ingin bertemu ketika ia sudah kembali ke Indonesia.
“Saya tunggu begitu kamu datang ke Jakarta langsung ke kantor ya, kita ngobrol ya,” kata Bima menutup percakapan.
Isi Pidato Afandi
Dilansir dari tayangan ulang, pidato Afandi dimulai dengan bercerita tentang masa kecilnya dan pepatah Maluku.
“Di desa saya, orang tua dan para tetua kami mewariskan nilai-nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya. Nilai-nilai itu berbunyi ‘alumiye umie, seiya nyie inyie’. Mengingatkan kita bahwa apa yang benar-benar berarti bagi kita, akan selalu menemukan jalannya kepada kita. Apa yang menjadi milik orang lain bukanlah hak kita untuk mengajarkannya,” bebernya.
Afandi menyebut, orang tuanya tidak pernah memiliki kesempatan untuk kuliah. Tetapi, mereka selalu percaya bahwa pendidikan dapat mengubah masa depan anak-anaknya.
Ketika ia menginjak usia 14 tahun, Afandi kehilangan kedua orang tuanya. Namun, nilai itu tetap dipegang teguh dan berhasil diwujudkan dengan orang pertama dalam keluarga yang lulus dengan gelar master.
“Gelar ini milik orang tua saya, keluarga saya, guru-guru saya, dan semua orang yang percaya pada saya sebelum saya percaya pada diri sendiri,” ujar Afandi.
Di kesempatan itu, ia juga bercerita momen kuliahnya di University of York. Setibanya di York, Afandi mengaku merasa gembira sekaligus gugup.
Sebagai mahasiswa internasional, ia bertanya-tanya bagaimana penerimaan warga York, tetapi ia mendapat jawaban dengan cepat. Ia mengungkap masyarakat York sangat baik dan saling menghormati, terutama terkait keyakinan yang ia anut.
“Universitas menghormati keyakinan saya dan memberi saya tempat di mana saya dapat berdoa (shalat). Momen-momen itu mungkin tanpa kecil, tetapi ketika berada ribuan mil jauhnya dari rumah, momen-momen itu sangat berarti,” katanya.
Ia mengenang hari-hari belajar di GB Memorial Library, momen bersama teman-teman di Farnbrough Jazz, hingga momen pertama kali menyentuh salju. Setelah menjalani studi, Afandi merasa York istimewa.
“Selama saya berada di York, saya menemukan sebuah ungkapan yang selalu teringat di benak saya, ‘berpendidikan global, berakar lokal’,” jelas Afandi.
Ungkapan itu awalnya ia pikir berarti jangan pernah melupakan asal-usul kita. Namun, maknanya ternyata lebih dalam, di mana pendidikan bisa membuat seseorang berpergian jauh dan melihat dunia dari perspektif baru.
“Tetapi, ke mana pun hidup membawa kita, saya berharap kita membawa serta nilai-nilai kebaikan dan rasa tanggung jawab yang telah membentuk kita jauh sebelum kita tiba di sini. Pendidikan bukan hanya tentang mengubah hidup kita sendiri, ini juga tentang membantu mengubah orang lain,” urainya.
Di akhir pidato, Afandi menyampaikan bila Indonesia memiliki lagu nasional berjudul Tanah Airku. Afandi juga memaknai lagu tersebut dengan dalam, di mana ia diingatkan meskipun sejauh apa pun pendidikan membawa anak bangsa pergi, kita tidak boleh melupakan tempat kita seharusnya berada.
Menutup pidato, Afandi mengucapkan terima kasih kepada beasiswa LPDP, pembimbing akademiknya, dan dosen IPDN Sudarmono. Sudarmono diketahui kini berkarier sebagai dosen dan Kepala Pusat Laboratorium Bahasa di IPDN.
“Dan akhirnya terima kasih banyak kepada seluruh keluarga saya di desa, mereka sedang menonton siaran langsung sekarang dan untuk orang tua saya tercinta di mana pun kalian berada, saya harap kalian tersenyum hari ini,” ujarnya. (MT-07)
