Sekilas Info

BKSDA Sita Puluhan Burung Endemik Maluku

SITA BURUNG ENDEMIK - Polisi Kehutanan SKW II BKSDA Maluku menyita puluhan ekor burung endemik Maluku yang dilindungi undang-undang di Desa Samasuru, Kecamatan Elpaputih, Kabupaten Maluku Tengah.

AMBON - Polisi Kehutanan Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku menyita puluhan ekor burung endemik Maluku yang  dilindungi undang-undang.

Kepala BKSDA Maluku, Mukhtar Amin Ahmadi di Ambon, Jumat (5/4/2019) mengatakan hasil patroli fungsional pengamanan kawasan dan peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) yang dilakukan Polisi Kehutanan SKW BKSDA Maluku dan Polsek Elpaputih, di Negeri Samasuru, Kecamatan Elpaputih, Kabupaten Maluku Tengah, berhasil mengagalkan peredaran burung ilegal dan menyita berbagai jenis burung endemik Maluku.

"Patroli tersebut dipimpin langsung Kepala SKW II BKSDA Maluku, Meity Pattipawae, hasilnya petugas berhasil menggagalkan peredaran burung ilegal dan menyita berbagai jenis burung endemik Maluku dan dililindungi undang-undang," katanya.

Menurutnya berdasarkan informasi yang diperoleh pada akhir Maret 2019, ada indikasi penangkapan, penampungan, serta pengangkutan berbagai jenis burung yang dilindungi di Negeri Samasuru untuk diperdagangkan secara ilegal.

"Petugas BKSDA Maluku melakukan investigasi mengumpulkan bukti dan mencari pelaku. Hasilnya diperoleh informasi bahwa puluhan burung dikumpulkan pelaku dari beberapa negeri yaitu Simau, Nakupia, Wae Putih maupun Liang. Burung-burung tersebut ditampung di rumah pelaku di Negeri Samarusu. Petugas BKSDA Maluku dibantu petugas Polsek Elpaputih langsung melakukan patroli ke Negeri Samarusu yang menjadi target sasaran," ungkapnya.

Mukhtar Amin Ahmadi menjelaskan petugas berhasil mengamankan dan menyita berbagai jenis burung yang dilindungi di rumah Ronald Rumarisa.

"Barang bukti yang disita yaitu burung Kesturi Tengkuk Ungu (Loriusdomicella) 1 ekor, Kakatua Seram (Cacatuamolucensis) 6 ekor, Betet Kelapa Paruh Tebal (Tanygnathusmegaloryynchos) 12 ekor, Perkici Pelangi (Trichoglossusmoluccanus) 11 ekor, Nuri Maluku (Eosbornea) 43 ekor dan Kakatua Koki (Cacatuagalerita) 1 ekor," rincinya.

Saat ini, menurutnya, barang bukti dititipkan di kantor SKW II BKSDA Maluku di Masohi dan akan direhabilitasi di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Masihulan sebelum dilepasliarkan ke habitatnya menunggu petunjuk penyidik.

Sementara Ronald Rumarisa warga Negeri Samasuru, Kecamatan Elpaputih langsung ditahan di Polsek Elpaputih.

Berbagai jenis burung dikumpulkan dari para pemburu burung di beberapa desa yang sudah dipesan oleh para tersangka, untuk diperdagangkan ilegal kepada pemesan di luar Maluku,  terutama pemesan di Pulau Jawa menggunakan kapal laut.

Harga per ekor burung yang dijual pelaku bervariasi, seperti Kakatua Seram yang dibeli Rp 500 ribu-Rp 800 ribu/ekor, dijual Rp 1 juta-Rp 1,2 juta/ekor. Perkici Pelangi dan Nuri Maluku beli Rp 75 ribu/ekor dan dijual Rp 200 ribu/ekor.

Jalur pengangkutan burung dibawa pelaku dari Desa Samasuru melalui penyeberangan speedboat ke desa Kamariang dilanjutkan ke Desa Waai dan menuju Kota Ambon. Selain itu ada juga jalur lain yaitu melalui Kapal Motor Penyeberangan di Pelabuhan Waipirit ke Hunimua dan langsung menuju Kota Ambon.

Perbuatan tersangka telah melanggar ketentuan Pasal 21 ayat (2) huruf a UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta. (MT-04)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!