Sekilas Info

Ini Pengakuan Penganiaya Anak Angkat Di Ambon

AMBON - Sungguh tega perbuatan yang dilakukan Edy Manusu dan Maria Kadir, pasangan suami istri yang tega menganiaya anak angkatnya SFU (8 tahun). Korban pun meninggal dunia setelah pulang kembali ke rumah orang tuanya.

Korban dianiaya dengan menggunakan kabel dan sejumlah benda tajam maupun benda tumpul lainnya.

Sejak tahun 2018 saat bocah malang itu diasuh pasutri yang meupakan PNS Pemerintah Provinsi Maluku dan PNS Pemkot Ambon ini, korban sudah dianiaya dengan dalih lantaran korban nakal.

Di hadapan Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease dan wartawan di Mapolresta, Rabu (14/10/2020), Edy Manusu tersangka penganiayaan mengaku menganiaya korban karena kesal. Korban dianiaya dengan kabel berulang kali.

“Saya tidak aniaya tetapi saya cuma pukul pak. Saya pukul dengan kabel. Ada juga dengan rotan. Saya hanya pukul tiga kali di kaki,” ungkap Edy Manusu.

Saat ditanya alasan penganiayaan dan tidak membawa korban ke dokter, tersangka yang juga sopir ambulance RSUD Haulussy ini mengaku korban menolak saat hendak dibawa ke rumah sakit.

“Saya sudah berusaha untuk membawa anak itu ke rumah sakit tetapi anaknya bersikeras tidak mau dibawa ke rumah sakit. Saya menyesal,” ungkapnya.

Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Leae Kombes Pol Leo SN Simatupang menyampaikan kedua tersangka tetap akan ditindak tegas dan dihukum berat.

“Kita hukum berat. Kita jerat dengan Undang-undang Perlindungan Anak ditambah pasal pemberatan. Untuk pelaku perempuan kita titipkan di Mapolsek Kawasan Pelabuhan Yos Sudarso (KPYS),” jelas Kapolresta.

Ia juga memastikan penyidikan kasus ini segera tuntas dan dilimpahkan ke jaksa guna disidangkan di Pengadilan Negeri Ambon secepatnya.

Baca Juga: Diduga Aniaya Anak Angkat Hingga Meninggal, Dua Warga Ambon Diringkus

Sebagaimana diketahui, pasutri yang berdomisili kawasan Lorong Kamar Mayat RSUD Haulussy tepatnya di RT 004/RW 001 Kelurahan  Benteng, Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon ini diringkus Rabu (7/10/2020) setelah polisi memeriksa saksi dan mendapatkan bukti awal penganiayaan terhadap SFU yang meninggal dengan tanda kekerasan di sekujur tubuhnya.

Kabarnya perbuatan keji pasutri ini sudah berlangsung lama. Mirisnya korban diperlakukan layaknya binatang. Keseharian korban tersiksa bahkan tidur beralaskan karton bersama hewan peliharaan di dapur. Korban juga dianiaya hingga mengeluarkan darah dari hidung.

Bukan hanya itu, Sabtu (3/10/2020) sebelum korban dibawa pulang ke Negeri Tial, Kecamatan Salahutu,  Kabupaten Malteng, korban sempat dianiaya pelaku. Akhirnya Sabtu (3/10/2020) malam korban meninggal dunia. (MT-04)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!