Sekilas Info

Personel Polda Maluku Amankan 6 Terduga Pemalsu Surat Rapid Test Antigen & GeNose Covid-19

KETERANGAN PERS - Direskrimum Polda Maluku, Kombes Pol Sih Harno (kiri) didampingi Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol M Roem Ohoirat (kanan) memberikan keterangan pers di Rupatama Polda Maluku, Ambon, Jumat (28/5/2021).

AMBON - Sebanyak enam pelaku yang diduga terlibat tindak pidana pemalsuan surat keterangan Rapid Test Antigen dan GeNose Covid-19 untuk perjalanan diamankan personel Ditreskrimum Polda Maluku.

Keenam orang yang diamankan masing-masing berinisial R (49) yang diketahui bernama Rusman warga kawasan Aster – Kota Ambon, H (34) diketahui bernama Husni S warga kawasan Kebun Cengkeh - Ambon, H (40) diketahui bernama H Angkotasan PNS pada Puskesmas Tulehu, S (40) diketahui bernama S Salampessy pemilik rental yang berdomisili di kawasan Silale - Ambon, S (26) pegawai PT Angkasa Pura Ambon dan M (38) pegawai Bandara Pattimura.

"Ada 6 orang yang kita amankan yang mana hari ini masih dilakukan pemeriksaan. Jadi belum berjalan 24 jam dan setelah 24 jam barulah kita akan melaksanakan penetapan tersangka," jelas Direskrimum Polda Maluku, Kombes Pol Sih Harno didampingi Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol M Roem Ohoirat dan penyidik di Rupatama Polda Maluku, Ambon, Jumat (28/5/2021).

Direskrimum membeberkan enam yang diduga terlibat ini diamankan Kamis (27/5/2021).

Dua pegawai travel diamankan lebih awal sekitar  pukul 18.30 wit dilanjutkan terduga lainnya.

"Ini terjadi kemarin dan dilakukan penangkapan anggota Reserse Polda dengan TKP di Jalan Ay Paty tepatnya di PT Levarissa Tour. Jadi yang diamankan atas nama inisial R (49), H (34) ini pegawai travel, H (40) perempuan ASN Puskesmas, Kemudian inusial S (40) perempuan, R (26) ini pegawai di Angkasa Pura dan M (38) pegawai di Bandara," ungkapnya.

Modus operandi yang digunakan, katanya, jika ada masyarakat yang memesan tiket dari travel tersebut maka kemudian ditawarkan kepada masyarakat untuk mendapatkan surat keterangan rapid tes maupun genos tanpa melakukan tes atau pemeriksaan.

"Modus operandinya jika ada yang memesan tiket dari travel tersebut maka kemudian ditawarkan kepada masyarakat untuk mendapatkan surat keterangan rapid test antigen maupun GeNose tanpa melakukan tes. Untuk antigen maka travel hubungi H dan dari H dihubungkan dengan yang inisial S (rental) oleh S dicetak surat keterangan antigen petugas travel mengambil  dan menyerahkan ke pemesan tiket. Begitu juga GeNose. Kalau GeNose itu travel hubungi nama U akan hubungi R dan atas nama N cetak surat keterangan genos kemudian di serahkan ke pemesan tiket," kata Direskrimum.

Menyangkut biaya, ia mengaku, untuk surat keterangan rapid test antigen diminta membayar Rp 200.000 sedangkan GeNose Rp 50.000.

"Jadi mereka tidak dilakukan pengecekan secara fisik. Tetapi dikeluarkan hasil tes," ujarnya .

Ia merincikan barang bukti yang berhasil diamankan masing-masing, uang tunai sebesar Rp 14.750.000, 3 unit laptop, 1 unit momputer, 1 unit printer, 6 handphone dan 1 cap stempel atas nama lab klinik serta 6 lembar surat keterangan yang terdiri daei 4 tes GeNose dan dua rapid test antigen.

“Pasal yang dipersangkakan terhadap para terduga adalah 263 ayat 1 KUHP yaitu membuat surat palsu dengan ancaman hukuman 6 tahun. Kita masih melakukan pengembangan. Dari keterangan bersangkutan sudah dilakukan sejak April. Namun dari anggota sementara didalami sejak bulan puasa sudah ada modus ini. Ini ditindaklanjuti berdasarkan informasi masyarakat," rincinya. (MT-04)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!