Sekilas Info

Ini Langkah Pemkab Malteng Tangani Konflik Kariu-Ori

AMBON, MalukuTerkini.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maluku Tengah (Malteng) telah melakukan berbagai langkah guna penanganan konflik antar warga Negeri Kariu dan Dusun Ori - Negeri Pelauw, Kecamatan Pulau Haruku.

Hal itu diungkapkan Bupati Malteng, Tuasikal Abua saat pertemuan bersama Kapola Maluku, Irjen Pol Lotharia Latif untuk membahas konflik dan penanganannya di Kantor Bupati Malteng, Masohi, Sabtu (5/2/2022).

Abua juga mengaku pihaknya telah menetapkan konflik sosial Dusun Ori Negeri Pelauw dengan Kariuw dengan status bencana konflik sosial sejak 26 Januari 2022.

“Status bencana berlaku selama 14 hari, dan rencana diperpanjang selama 2 minggu,” ujarnya.

Menurutnya, Pemkab Malteng telah mengerahkan bantuan peralatan dan logistik, meliputi terpal ukuran 4x6 sebanyak 37 buah, terpal ukuran 6x8 15 buah, selimut 54 buah, tikar 24 buah, kain sarung pria 40 buah, kain sarung wanita 40 buah, bantuan beras sebanyak 2 ton.

"Bantuan sembako lainnya gula pasir 200 kg, Ayudes 20 karton, kopi 5 karton, daun Teh 20 dos juga disalurkan," ungkap Abua.

Pemkab Malteng, katanya telah menyampaikam himbauan kepada masyarakat untuk tidak terpropokasi dan menyebarkan isu-isu hoaks terkait konflik tersebut.

"Meminta masyarakat Kariu dan Ori untuk menahan diri dan menyerahkan penyelesaian masalah konflik kepada aparat Kepolisian dan pihak berwajib," katanya.

Ia juga menjelaskan, telah menghadiri pertemuan dengan Kemenkopolhukam, Kemendagri, Kapolda, Pangdam, Wakil Gubernur Maluku, Instansi terkait lainnya dalam rangka penanganan dan penyelesaian konflik.

"Mendampingi Tim Kemenkopolhukam dan Kemendagri untuk memantau lokasi konflik dan lahan yang disengketakan," jelasnya.

Pihaknya, kata Abua, juga sudah menyusun skenario rencana penanganan pengungsi, berupa penyediaan hunian sementara, relokasi dan pemukiman kembali Negeri Kariu.

"Penempatan staf medis di pengingsian dan kunjungan rutin dokter puskesmas setiap 3 kali dalam seminggu memantau dan memberikan layanan kesehatan di lokasi pengungsinan. Penyiapan rencana belajar mengajar untuk Siswa SD dan SMP di lokasi pengungsian," katanya.

Ia juga mengatakan pihaknya telah menetapkan tim penegasan batas tanah Kabupaten Malteng serta penyiapan rencana penanganan sementara para pengungsi selama di lokasi pengungsian.

Antara lain penyiapan dapur umum, penyediaan peralatan masak, penyediaan sembako, penyediaan air bersih, penyediaan MCK, penyediaan jaringan listrik dan penerangan, penyediaan perlengkapan tidur, penyediaan pakaian anak-anak dan orang dewasa, penyediaan seragam sekolah dan perlengkapan belajar, penyediaan obat-obatan, penyiapan tenda untuk ruang belajar darurat.

"Mudah-mudahan dengan segala ikhtiar serta dukungan dari semua pihak, terutama tokoh masyarakat, tokoh adat, pemuka agama, aparat TNl-Polri, Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat, penyelesaian masalah ini dapat segera dituntaskan agar suasana Damai dapat kembali tercipta di Kecamatan Pulau Haruku," harapnya.

Saat pertemuan tersebut, Abua juga merincikan, jumlah korban meninggal akibat konflik tersebut tercatat 3 orang, korban luka 3 orang, dan jumlah pengungsi 1.558 orang/350 KK. Jumlah pengungsi siswa SD sebanyak 138 orang dan siswa SMP sebanyak 69 orang.

“Jumlah rumah terbakar 211 unit, meliputi 183 rusak berat dan 28 rusak sedang. Jumlah tanaman Cengkih yang ditebang 1.030 pohon, jumlah mobil yang terbakar 3 unit, motor yang terbakar 59 unit, jumlah Sekolah yang rusak meliputi 2 ruang kelas SD rusak berat," rincinya. (MT-04)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!