AMBON, MalukuTerkini.com – Klasis Gereja Protestan Maluku (GPM) Kota Ambon menggelar sidang ke-50 yang dipusatkan di Gereja Josep Kam, Jemaat Bethel, Ambon, Minggu (8/3/2026).
Ketua Klasis GPM Kota Ambon Pendeta Elrianton Muskitta dalam pidatonya saat pembukaan menegaskan persidangan gereja bukan sekedar agenda organisasi yang diatur dalam tata gereja dan peraturan pokok tentang klasis, tetapi panggilan untuk melaksanakan misi Allah.
“Ada doa, ada harapan, ada tanggung jawab, dan ada panggilan yang terus diperbarui. Kehadiran kita bukan hanya membawa tanggapan terhadap laporan umum pelayanan, menyusun program, menyusun anggaran dan sejumlah rekomendasi, tetapi kita membawa pergumulan umat yang kita layani. Kita berkumpul sebagai pelayan Tuhan di tengah kehidupan masyarakat Kota Ambon yang terus berubah. Ada dinamika keluarga yang semakin kompleks, tantangan generasi muda yang semakin besar, perkembangan teknologi yang semakin cepat serta berbagai persoalan sosial yang semakin nyata dalam kehidupan umat,” tandasna.
Di tengah semua dinamika itu, katanya, Tuhan kembali mengingatkan melalui tema pelayanan Gereja Protestan Maluku tahun 2025-2030: “Anugerah Allah Melengkapi dan Meneguhkan Gereja Menuju Satu Abad GPM” (1 Petrus 5:10).
“Secara khusus di tahun pelayanan ini kita dipanggil untuk ‘Layanilah Umat dengan Tekun Sesuai dengan Kasih Allah’. Ini adalah panggilan iman kita. Panggilan untuk menata kembali hati kita, memperbarui arah pelayanan, dan meneguhkan komitmen kita sebagai umat dan pelayan di Gereja Protestan Maluku, khususnya di Klasis Kota Ambon,” katanya.
Menurut Pendeta Rinto sapaan akrab Pendeta Elrianton Muskitta berharap persidangan ke-50 ini harus mengevaluasi pelayanan secara jujur.
“Evaluasi pelayanan secara jujur. Kita tidak mencari siapa yang salah, tetapi untuk melihat secara bersama pelayanan kita sungguh menyentuh kehidupan umat. Kita tidak bisa menutup mata terhadap berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat kita. Ada perceraian, perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, jeritan pinjaman online, judi online, dan tingkat kerentanan sosial lainnya serta krisis pembinaan karakter anak-anak. Semuanya itu adalah kenyataan yang tidak bisa kita abaikan,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan tanggung jawab melayani anak-anak, termasuk anak berkebutuhan khusus, anak yang hidup lintas iman.
“Ini adalah pilihan investasi strategis bagi pengembangan masa depan gereja, bagi Generasi Emas GPM dan Indonesia. Dengan mengabaikan pelayanan kepada anak-anak maka kita akan kehilangan esensi panggilan kita. Tanggung jawab untuk membangun generasi yang cerdas dan yang berakhlak mulia diawali melalui usaha memaksimalkan peran setiap keluarga-keluarga kita,” tandasnya
Pendeta Muskitta juga mengaku bersama 53 pendeta, 784 penatua dan diaken di 21 jemaat, srta 143 sektor, 360 unit pelayanan, dipanggil menjadi teladan bagi 11.291 kepala keluarga, bagi 41.314 jiwa.
“Bukanlah hal yang ringan. Sikap ketekunan dalam kasih Allah harus terlihat dalam sikap hidup, dalam etika pelayanan, dalam tutur kata, dan dalam integritas kehidupan kita. Sekarang ini umat tidak hanya mendengar khotbah kita, tetapi juga membaca kehidupan kita, sehingga kita belajar melihat dengan lebih jernih apa yang telah kita capai dan apa yang masih perlu kita perbaiki dalam panggilan pelayanan kita,” ungkapnya.
Ia juga merincikan, mencermati rekaman pelaksanaan sidang pada ke-21 jemaat, ada gumulan realitas jemaat Diakonos yang berada di wilayah pelayanan Klasis Kota Ambon dan dari secara jumlah mulai berkurang sedikit demi sedikit, serta dinamika pelayanan jemaat Sion yang bergumul dengan pengkajian pemekaran jemaat.
“Hal-hal seperti ini perlu disikapi secara bijak. Jika tidak, akan menimbulkan masalah dalam hidup bersama kita, dan ini menjadi tugas bersama Majelis Pekerja Klasis dan Majelis Jemaat pada masing-masing jemaat,” rincinya.
Pendeta Muskitta bersyukur karena dalam perjalanan pelayanan hasil monitoring dan evaluasi, ada capaian penguatan umat 80%, penguatan pelayanan 75%, dan penguatan kelembagaan gereja 78%.
“Capaian ini dapat dilaksanakan karena komitmen kita terhadap panggilan pelayanan bersama. Namun juga harus jujur kita melihat masih ada bidang pelayanan yang perlu diperkuat, terutama dalam pelayanan sosial, pendidikan, advokasi serta pemberdayaan ekonomi umat. Karena itu kita telah merumuskan Rencana Pengembangan Pelayanan Klasis (RPPK) GPM Kota Ambon tahun 2026-2030 sebagai arah pelayanan kita lima tahun ke depan. Dalam dokumen itu terbaca kita rindu melihat umat yang bertumbuh dalam iman dan karakter etis injili, para pelayan yang memiliki integritas, kapasitas, dan spiritualitas yang kuat, dan lembaga gereja yang tertata dengan baik, transparan, termasuk tata kelola perbendaharaan gereja, sehingga pelayanan kita semakin terarah, terencana, dan efektif,” ungkapnya. Pembukaan Sidang ke-50 Klasis GPM Kota Ambon juga dihadiri Wakil Sekretaris Umum (Wasekum) MPH Sinode GPM Pendeta Max Takaria, Asisten Administrasi Umum Sekda Maluku Dominggus N Kaya, Wali Kota Ambon Bodewin M Wattimena, Ketua DPRD Kota Ambon Morits Tamaela, serta delegasi dari 21 jemaat. (MT-01)




Tinggalkan Balasan