AMBON, MalukuTerkini.com – Maluku bukan sekadar gugusan pulau, melainkan entitas provinsi kepulauan dengan karakteristik ekologis dan geografis unik yang menuntut pendekatan pembangunan khusus.

Hal itu diungkapkan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Perikanan (FPIK) Prof Dr Alex SW Retraubun saat Seminar Internasional dalam rangka Dies Natalis ke-63 Unpatti, Rabu (22/4/2026),

Seminar Internasional yang berlangsung secara hybrid dan dipusatkan di Gedung Pascasarjana Unpatti ini mengusung tema “Elevating the Role of the University in the Sustainable Development of Archipelagic Region”.

Dalam presentasi bertajuk ‘Fisheries And Marine Policy and The Role of Pattimura University In The Development Of Archipelagic Regions: A Case Study of Maluku Province’, Retraubun menegaskan Unpatti memiliki peran krusial untuk menjadi pusat keunggulan (center of excellence) dalam pengembangan wilayah kepulauan di tingkat nasional.

“Berdasarkan data geospasial terbaru, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas lautan mencapai 75%, dibandingkan daratan yang hanya 25%.Di tingkat regional, Provinsi Maluku mencatatkan angka yang jauh lebih mencolok. Luas wilayah Maluku 92,4% mrupakan perairan,” jelasnya

Dikatakan, dengan 1.340 pulau dan garis pantai sepanjang 10.630 km, Maluku menjadi laboratorium alam yang tiada duanya bagi ilmu pengetahuan maritim.

“Kendati kaya akan sumber daya laut yang melimpah, karakteristik wilayah kepulauan seperti Maluku menyimpan kerentanan tinggi,” kata mantan Wakil Memteri Perindustrian tahun 2009 – 2014.

Retraubun mengidentifikasi beberapa tantangan utama, antara lain: Fragmentasi Spasial: Pulau-pulau yang terpencar menyebabkan konektivitas dan transportasi menjadi terbatas; Kerentanan Ekologis: Ukuran pulau yang kecil membuatnya sangat rentan terhadap guncangan ekonomi, bencana alam (seperti tsunami dan gempa), serta perubahan iklim global termasuk kenaikan permukaan laut; Ketergantungan Eksternal: Daya dukung pulau kecil yang terbatas memicu ketergantungan tinggi pada wilayah luar untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang persebarannya belum merata.

Ia juga menegaskan isu kepulauan harus mencakup spektrum yang luas, memungkinkan seluruh fakultas berkontribusi sesuai disiplin ilmu masing-masing.

“Isu kepulauan wajib diintegrasikan ke dalam Tridharma Perguruan Tinggi—Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat. Hal ini harus didukung oleh kebijakan institusi yang kuat untuk memastikan luaran (output) penelitian dapat memberikan dampak (impact) nyata bagi masyarakat,” tandas mantan Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan ini.

Dengan optimalisasi peran Unpatti, menurutnya, diharapkan tantangan isolasi geografis dapat diubah menjadi peluang ekonomi maritim yang berkelanjutan bagi kemajuan Maluku dan Indonesia di masa depan.

Seminar internasional tersebut menghadirikan pembicara yaitu Dr Marthin G Nanere (La Trobe University Melbourne – Australia), Prof Sun-Kee Hong (Mokpo National University South Korea), Prof Reynokd Tan (University of The Philippines Visayas), Prof Simon HT Raharjo (Fakultas Pertanian UnpattI) dan Prof Alex SW Retraubun (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpatti).

Seminar Internasional ini dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, para dekan, para direktur, para ketua lembaga, para guru besar, para dosen, tenaga kependidikan, para mitra strategis, serta seluruh sivitas akademika universitas. (MT-01)