AMBON, MalukuTerkini.com – Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia maupun keluarga veteran dan warga Australia menggelar peringatan 111 tahun Australian and New Zealand Army Corps (Anzac) Day atau Hari Anzac di Taman Makam Persemakmuran atau Ambon War Cemetery, di kawasan Tan­tui, Ambon, Sabtu (25/4/2026).

Hari Anzac yang digelar setiap tahun pada 25 April, menandai pendaratan pasukan Australia dan Selandia Baru di Gallipoli, Turki, pada tahun 1915.

Di Ambon, diperingati dengan upacara subuh, yang dipandu Atase Angkatan Laut Kedubes Australia untuk Indonesia Kolonel Mark L Daly. Upacara dimulai pukul 05.30 WIT.

Upacara Anzac Day 2026 di Ambon dihadiri Todd Diaz (Konsul Jenderal Australia di Makassar). Hadir juga Belasan keluarga veteran maupun warga Australia.

Turut hadir juga Wali Kota Ambon Bodewin M Wattimena, Direktur Pengamanan Objek Vital Polda Maluku Kombes Pol Donni Eka Syapura, Asisten Intelijen Komandan Kodaeral IX Kolonel Laut (KH) Iwan Hariwanto,

Saat upacara tersebut, Konsul Jenderal Australia di Makassar Todd Diaz bersama Wali Kota Ambon, sejumlah pejabat maupun keluarga veteran yang hadir turut meletakan karangan bunga poppy merah dan rosemary yang dibawa khusus dari Australia, pada tugu peringatan yang berada di ba­gian tengah makam persemakmuran War Cemetery, di kawasan Tantui.

Konsul Jenderal Australia di Makassar Todd Diaz menjelaskan peringatan Anzac Day berlangsung serentak di seluruh dunia.

“Anzac Day diperingati setiap 25 April, sesuai tanggal pendaratan tentara Australia dan Selandia Baru di Gallipoli, Turki, pada 1915. Lebih dari 10.000 orang tentara Australia dan Selandia Baru gugur dalam selama delapan bulan di Turki pada Perang Dunia I,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, di Taman Makam Persemakmur­an din kawasan Tantui – Ambon yang menjadi lokasi peringatan 108 tahun Anzac Day atau Hari Anzac, teronggok ke­rangka ribuan tentara sekutu dari 6 negara. Total­nya seba­nyak 2.137 makam, terdiri dari 1.092 tentara Australia, terma­suk 694 tentara dari total dari 1.131 anggota pasukan elit batalion 21, Divisi II  Gull­Force atau pasukan infantri Australia yang gugur.

Selain itu 810 tentara Inggris, 186 Belanda, 30 India, 2 Kanada, Selandia baru dan Afrika Selatan masing-masing 1 dan 15 orang dari beberapa negara sekutu lainnya.

Di bagian depan Taman terda­pat Memorial Building Ambon. Bangunan mirip halte bus, terbuat dari beton berkualitas tinggi dengan desain eksterior berkelas.

Di kedua sisi dindingnya terpam­pang lembaran tem­baga berukuran sekira 3×2 meter persegi yang diatasnya terukir dengan huruf timbul nama tentara dan penerbang Australia yang gugur di tanah Maluku, Sulawesi dan Kepulauan sekitarnya pada saat Perang Dunia II, termasuk yang tidak diketahui dan ditemukan jenasah­nya.

Setiap nama dilengkapi nomor prajurit, pangkat dan jabatan ter­akhir serta nama asal kesatuan. Dari data yang terpampang, umumnya mereka berasal dari Ang­kat­an Udara Australia, selain bebe­ra­pa yang berasal dari kesatuan Angkatan Laut dan Angkatan Darat Australia.

Lokasi Taman Makam Per­semakmuran Tantui, pada saat Perang Dunia II, sebelumnya menjadi menjadi markas Batalyon 2/21 Austra­lia GullForce, dan kemudian berubah menjadi lokasi kam tahanan tentara negara-nega­ra persemak­muran oleh tentara Jepang.

Batu-batu nisan berukuran sebesar laptop dengan tinggi hanya be­berapa sentimeter di atas tanah seolah tak terli­hat diatas hamparan rumput hijau yang dipangkas rapih. Namun ketika melangkahkan kaki ke bagian tengah barulah batu-batu nisan itu tampak bertebaran dimana-mana. (MT-01)