AMBON, MalukuTerkini.com – Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengingatkan lulusan Universitas Pattimura (Unpatti) agar tidak hanya mengandalkan ijazah, tetapi juga memperkuat penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, riset, dan keterampilan untuk menghadapi peluang pembangunan, termasuk pengembangan Gas Blok Masela di Maluku.
Menurut JK, keberadaan sumber daya alam yang melimpah tidak secara otomatis membawa kemajuan bagi masyarakat setempat apabila tidak diimbangi kesiapan sumber daya manusia dalam mengelola potensi tersebut.
Hal itu disampaikan JK saat menyampaikan orasi ilmiah pada Rapat Terbuka Luar Biasa Senat Universitas Pattimura dalam rangka Wisuda Sarjana, Profesi, Magister dan Doktor periode Oktober 2026, yang dipusatkan di Auditorium Unpatti, Senin (2/11/2026).
JK mengatakan, pengembangan Blok Masela merupakan harapan baru bagi Maluku. Namun, peluang tersebut harus diikuti dengan kesiapan masyarakat, khususnya generasi muda dan lulusan perguruan tinggi, dalam menguasai teknologi serta meningkatkan kemampuan melalui pendidikan dan pelatihan.
“Gas itu hanya teknologi. Jangan mengharapkan tanpa pelatihan, tanpa riset, tanpa kemauan-kemauan yang keras. Kalau tidak, Anda semua akan hanya menonton saja,” katanya.
Ia menilai, kemajuan suatu daerah sangat ditentukan oleh kemampuan masyarakatnya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, energi, serta membangun sektor industri berbasis teknologi.
“Karena itu, lulusan perguruan tinggi dituntut memiliki semangat belajar yang kuat agar mampu mengambil bagian dalam pembangunan daerah,” ungkapnya.
JK menegaskan, ijazah memang menjadi salah satu harapan bagi para lulusan untuk memasuki dunia kerja. Namun, ijazah tidak cukup menjadi modal utama dalam menghadapi persaingan dan perkembangan industri.
“Ijazah bukanlah hal yang sangat penting, tetap mempunyai itu harapan, tapi bukan hanya ijazah yang menjadi harapan, harapan yang lebih keras dan kemampuan untuk mengelola ilmu secara sebaik-baiknya,” tandasnya.
Dalam orasi ilmiahnya, JK juga mencontohkan sejumlah daerah di Indonesia yang memiliki kekayaan sumber daya alam, tetapi masyarakat lokal belum sepenuhnya menikmati manfaat dari pengelolaan potensi tersebut.
Ia menyinggung Aceh yang memiliki kekayaan alam luar biasa, tetapi pada masa tertentu masyarakatnya belum memiliki kemampuan memadai untuk mengelola sumber daya tersebut. Akibatnya, pengelolaan potensi alam lebih banyak dilakukan oleh pihak luar.
Kondisi serupa, menurut JK, juga dapat dilihat di Kalimantan dan Papua, termasuk pada pengelolaan industri energi seperti Tangguh.

Ia menilai, keterbatasan pendidikan, penguasaan teknologi, dan semangat untuk terus belajar menyebabkan masyarakat lokal belum sepenuhnya menempati posisi strategis dalam industri yang berkembang di wilayah mereka.
“Kenapa? Karena pendidikan dan semangat untuk mengetahui hal itu tidak terjadi. Maka menjadilah industri-industri itu menjadi bagian-bagian daripada kemampuan yang dilaksanakan di luar dan bukan oleh orang setempat,” jelasnya.
JK mengingatkan, pengalaman sejumlah daerah tersebut harus menjadi pelajaran bagi Maluku dalam mempersiapkan masyarakat menghadapi perkembangan industri energi, khususnya Blok Masela.
Ia berharap, masyarakat Maluku tidak hanya menjadi penonton ketika investasi dan pembangunan industri berlangsung, tetapi mampu terlibat secara aktif melalui peningkatan kompetensi dan penguasaan teknologi.
Menurutnya, teknologi tidak dapat dikuasai hanya dengan membaca buku. Diperlukan proses pembelajaran berkelanjutan, pelatihan, penelitian, serta keterlibatan dalam berbagai kegiatan akademik dan kompetisi keilmuan.
“Belajarlah lagi, belajar lagi, latihan lagi, latihan lagi, dan juga ikut dalam semua perlombaan-perlombaan keilmuan,” ungkapnya.
JK juga menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam proses pembangunan. Sebab, apabila masyarakat lokal tidak memiliki kemampuan yang memadai, peluang yang tersedia berpotensi dimanfaatkan oleh pihak lain yang lebih siap.
Ia mengatakan, ketidakpuasan masyarakat di sejumlah daerah tidak selalu disebabkan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga dapat muncul akibat rendahnya kapasitas sumber daya manusia lokal dalam memanfaatkan peluang pembangunan.
“Karena apabila tidak melibatkan masyarakat, dan apabila Anda tidak terlibat kesempatan itu, maka kemampuan itu hanya melintas kurang lebih, akan pergi ke tempat lain yang mampu melaksanakan,” ungkapnya.
JK pun mendorong para ilmuwan dan sivitas akademika Universitas Pattimura untuk memperkuat penelitian dan riset yang berkualitas guna mendukung kemajuan daerah.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan pembangunan, sekaligus memastikan kekayaan alam Maluku dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat.
Ia berharap para lulusan Unpatti dapat terus mengembangkan ilmu pengetahuan, meningkatkan kemampuan teknologi, serta memiliki semangat yang kuat untuk berkontribusi bagi pembangunan Maluku di masa mendatang. (MT-01)
