AMBON, MalukuTerkini.com – Manifestasi klinis Infeksi Menular Seksual (IMS) ternyata tidak hanya muncul pada organ reproduksi, melainkan juga kerap menampakkan tanda-tanda pertamanya di area rongga mulut.

Fakta medis inilah yang mendorong pentingnya pemahaman mendalam bagi para calon dokter gigi dalam mengenali gejala awal infeksi tersebut saat menghadapi pasien di meja praktik.

Hal tersebut disampaikan oleh Akademisi Departemen Dermatologi, Venereologi dan Estetika Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Pattimura (Unatti), dr Amanda G Manuputty Sp.DVE, M.Ked.Klin saat ‘Dental Series of Dentistry Talk’ di kampus FK Unpatti, Ambon, Jumat (12/6/2026).

Manuputty yang memaparkan materi bertajuk “Red Flags in Oral Cavity:  Peran Dokter Gigi dalam Deteksi Dini IMS” mengaku banyak jenis IMS yang memiliki manifestasi langsung di rongga mulut, bahkan lesi oral sering kali menjadi petunjuk paling awal dari infeksi sistemik yang mematikan seperti HIV dan sifilis.

Selain itu, ia juga mengingatkan adanya ancaman serius dari jenis virus tertentu seperti Human Papillomavirus (HPV) tipe 16 dan 18 yang berisiko tinggi memicu kanker atau karsinoma orofaring.

“Dokter gigi memiliki posisi yang sangat strategis dalam memutus rantai penularan melalui identifikasi lesi oral dan kolaborasi interprofesional yang efektif,” tandasnya.

Menurutnya, ketelitian dalam pelayanan kesehatan gigi bisa menyelamatkan pasien dari komplikasi yang lebih berat.

“Anamnesis lengkap, inspeksi oral teliti, dan rujukan tepat waktu sangat penting untuk tatalaksana pasien,” ujarnya

Ia menjelaskan berdasarkan data global dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), urgensi deteksi dini ini kian mendesak mengingat ada lebih dari satu juta kasus baru IMS yang terjadi setiap hari di seluruh dunia.

“Tantangan terbesar dalam pengendalian penyakit ini adalah sifatnya yang mayoritas asimtomatik atau tidak bergejala, terutama ketika menyerang kelompok usia produktif. Kondisi tanpa gejala tersebut membuat penularan sering terjadi tanpa disadari oleh penderita hingga akhirnya memicu komplikasi lanjut seperti infertilitas, kanker, hingga peningkatan risiko penularan HIV,” jelsnya.

Melalui pendekatan klinis yang sistematis, katanya, seorang dokter gigi diharapkan mampu mengenali karakteristik berbagai lesi spesifik.

“Selain bertindak dalam ranah deteksi dini dan rujukan, para dokter gigi juga memikul tanggung jawab besar dalam aspek preventif. Hal tersebut mencakup pemberian edukasi kesehatan seksual kepada masyarakat, penerapan pencegahan penularan silang di fasilitas kesehatan, serta penegakan protokol pengendalian infeksi secara wajib dan ketat di dalam klinik gigi masing-masing,” katanya. (MT-01)