AMBON, MalukuTerkini.com – Inflasi tahunan Provinsi Maluku pada Oktober 2026 mencapai 4,21 persen, dengan kelompok transportasi menjadi penyumbang kenaikan harga tertinggi sebesar 13,48 persen.
Kondisi ini mencerminkan tren kenaikan harga berbagai komoditas dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia, dalam keterangannya yang diterima malukuterkini.com, Senin (2/11/2026), menjelaskan berdasarkan hasil pemantauan di tiga kabupaten/kota, terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,62 pada Oktober 2025 menjadi 114,23 pada Oktober 2026.
“Pada Oktober 2026 terjadi inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 4,21 persen,” jelasnya.
Selain inflasi tahunan, katanya, Maluku juga mencatat inflasi month-to-month (m-to-m) sebesar 0,23 persen. Sementara itu, tingkat inflasi year-to-date (y-to-d) hingga Oktober 2026 tercatat sebesar 3,08 persen.
“Inflasi y-on-y terjadi akibat kenaikan indeks harga pada 10 kelompok pengeluaran. Kelompok transportasi mencatat kenaikan tertinggi sebesar 13,48 persen, disusul kelompok kesehatan sebesar 5,62 persen serta kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 4,51 persen,” katanya.
Kenaikan harga, rincinya, juga terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 2,67 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,14 persen, serta kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,06 persen.
“Ada kuga kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya mengalami kenaikan sebesar 1,92 persen, kelompok pendidikan sebesar 1,71 persen, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,29 persen, serta kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,11 persen,” rincinya.
Di tengah kenaikan harga tersebut, jelasmya, kelompok pakaian dan alas kaki justru mengalami penurunan indeks sebesar 2,45 persen.
“Sejumlah komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi tahunan pada Oktober 2026. Komoditas tersebut antara lain tarif angkutan udara, cabai merah, bensin, cabai rawit, labu siam atau jipang, mobil, buncis, emas perhiasan, nasi dengan lauk, dan daging ayam ras. Selain itu, kenaikan harga bahan bakar rumah tangga, ikan cakalang, sigaret kretek mesin (SKM), sawi hijau, tarif rumah sakit, sepeda motor, pisang, kangkung, pelumas atau oli mesin, serta biaya pemeliharaan dan servis turut memberikan kontribusi terhadap inflasi,” ungkapnya.
Sementara itu, katanya, sejumlah komoditas tercatat memberikan andil terhadap deflasi atau menahan laju kenaikan harga secara tahunan. Komoditas tersebut didominasi kelompok perikanan, seperti ikan selar atau kawalinya, ikan tongkol atau komu, ikan layang atau momar, dan ikan tuna atau tatihu.
“Komoditas lainnya yang memberikan andil deflasi yakni bawang merah, lemon, telur ayam ras, bawang putih, ketela pohon, bayam, serta berbagai produk pakaian dan kebutuhan rumah tangga,” katamya.
Pattiwaellapia mengaku penurunan harga juga tercatat pada baju kaos tanpa kerah atau T-shirt pria, celana panjang jeans pria, baju muslim wanita, blus wanita, sepatu pria, pembalut wanita, dan sabun mandi. (MT-06)
