AMBON, MalukuTerkini.com – Di tengah tuntutan zaman yang kian dinamis, universitas kini tidak lagi hanya sekadar pusat pengajaran dan publikasi ilmiah.
Inovasi telah menjelma menjadi instrumen vital untuk menjembatani visi akademik dengan transformasi nyata di masyarakat.
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Technology Transfer and Business Development Office (TTBDO) University of the Philippines Visayas (UPV) Prof Reynold D Tan PhD dalam pemaparan bertajuk “The Role of Innovation to Achieve the University Vision: Lessons from UP Visayas”.
Paparan tersebut disampaikan secara daring oleh Prof Reynold saat Seminar Internasional dalam rangka Dies Natalis ke-63 Unpatti, Rabu (22/4/2026),

Seminar Internasional yang berlangsung secara hybrid dan dipusatkan di Gedung Pascasarjana Unpatti ini mengusung tema “Elevating the Role of the University in the Sustainable Development of Archipelagic Region”.
Dalam presentasinya, Prof Reynold menekankan bahwa UPV telah mengintegrasikan inovasi ke dalam mandat utama pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Menurutnya, riset tidak boleh berhenti di rak perpustakaan, namun harus diterjemahkan menjadi teknologi yang dapat digunakan.
“Inovasi di UPV berpijak pada relevansi menjawab kebutuhan riil nelayan, pengolah hasil laut, pemerintah daerah, hingga usaha kecil,” ungkap Reynold.
Melalui berbagai contoh kasus di sektor akuakultur, sistem pembenihan, hingga teknologi pengolahan, UPV membuktikan riset akan memberikan dampak signifikan apabila mampu menjawab hambatan industri dan prioritas komunitas lokal.
Keberhasilan ini, kata Reynold, tidak lepas dari kolaborasi interdisipliner. Sinergi antara ahli biologi, insinyur, ekonom, hingga ilmuwan sosial menjadi kunci dalam memecahkan masalah yang kompleks.
“Selain itu, nilai budaya lokal seperti bayanihan (gotong royong) dan pakikisama (kebersamaan) turut memperkaya praktik inovasi sehingga lebih inklusif dan tangguh,” katanya.
Satu aspek penting, katanya yaitu perlindungan Kekayaan Intelektual (IP). Hal ini memungkinkan inovasi bergerak dari sekadar prototipe menuju tahap komersialisasi dengan penuh percaya diri.
“Dalam ekosistem ini, UPV-TTBDO berperan sebagai pusat yang berfungsi melindungi, memfasilitasi, dan menghubungkan hasil inovasi dengan para pemangku kepentingan,” ungkapnya.
Kendati menghadapi tantangan klasik seperti keterbatasan dana dan infrastruktur, Reynold optimis peluang besar terletak pada penguatan ekosistem dan investasi pada sumber daya manusia.
“Pelajaran dari UP Visayas menegaskan bahwa inovasi bukanlah pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk mencapai visi universitas serta berkontribusi pada pembangunan regional dan pengetahuan global,” ungkapnya.
Seminar internasional tersebut menghadirkan pembicara yaitu Dr Marthin G Nanere (La Trobe University Melbourne – Australia), Prof Sun-Kee Hong (Mokpo National University South Korea), Prof Reynokd Tan (University of The Philippines Visayas), Prof Simon HT Raharjo (Fakultas Pertanian UnpattI) dan Prof Alex SW Retraubun (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpatti).
Seminar Internasional ini dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, para dekan, para direktur, para ketua lembaga, para guru besar, para dosen, tenaga kependidikan, para mitra strategis, serta seluruh sivitas akademika universitas. (MT-01)



Tinggalkan Balasan