Sekilas Info

DPPU Pattimura Latih Inovasi & Diversifikasi Produk Bank Sampah

AMBON - Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan (DLHP) Kota Ambon per Agustus 2021, tercatat volume sampah di masa pandemi Covid-19 di wilayah ini mencapai 175 ton per hari.

Dari total volume sampah itu, 60 persen penyumbangnya adalah sampah rumah tangga termasuk sampah organik.

Olehnya itu, kegiatan Pelatihan Inovasi dan Diversifikasi Produk Bank Sampah Organik digelar bagi penerima manfaat program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Pattimura di Dusun Air Manis, Desa Laha, Ambon, Rabu (8/9/2021).

Operation Head Pertamina DPPU Pattimura, Tengku Nazwar mengungkapkan tujuan digelarnya kegiatan ini agar peserta tidak lagi membuang sampah organiknya, melainkan mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai terutama dalam mendukung kebutuhan rumah tangga.

Adapun pelatihan ini melibatkan tiga penerima manfaat program CSR, yakni Bank Sampah Bumi Lestari Maluku, Paud Sadar Lingkungan, dan Desa Tangguh Bencana (Destana).

“Kita pendekatan sekitar lingkungan kerja, membantu masyarakat sekitar untuk bisa menjalankan program yang mereka tekuni kita bantu untuk pengembangannya,” ungkapnya.

Dikatakan, pihaknya telah melakukan pendampingan bagi kelompok penerima manfaat program CSR Pertamina sejak 2019 lalu.

Ia mengharapkan, melalui pendampingan yang dilaksanakan pihaknya, pengetahuan peserta dapat meningkat dan nantinya bisa dimanfaatkan secara mandiri demi kelangsungan hidup sehari-hari di masa mendatang.

“Harapan ke depannya yang sudah kita bantu selama ini bisa dijalankan secara mandiri, sehingga dia dapat berkelanjutan dan tidak berhenti sampai disitu,” katanya.

Sementara itu, pedampingan Pertamina DPPU Pattimura ini mampu memperbarui dan meningkatkan kapasitas para penerima manfaat.

Hal ini diakui Direktur Bank Sampah Bumi Lestari, Sarti Wally. “Selain pelatihan-pelatihan, bantuan berupa dana dan peralatan juga sangat mendukung jalannya Bank Sampah Bumi Lestari yang dipimpinya,” ujar Sarti.

Hal serupa juga diungkapkan Fasilitator Destana, Taher Soakil.

Dia mengaku, dengan terlibat sebagai peserta dalam pelatihan tersebut, dia dapat mempelajari hal baru.

Kemudian ilmu yang didapatkan dalam pelatihan tersebut akan dibagikan ke anggota kelompok lainnya.

“Harapannya dalam kegiatan ini sebagai bentuk kegiatan integrasi, sebagai program penambahan ilmu dan wawasan. Kebetulan di program Destana juga ada pelatihan hydroponic. Melihat potensi dari pemanfaatan secara ekonomi dan lingkungan, kegiatan ini bisa menjadi ilmu yang dapat diterapkan ke program Destana.

Secara pribadi saya sangat bersyukur bisa mendapatkan ilmu terkait dengan kompos. Sementara eco-enzyme saya juga baru tahu ternyata seperti itu pemanfaatannya dan akan sangat bagus digunakan sebagai nutrisi bagi tanaman hydroponic,” ujar Taher. (MT-05)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!