AMBON, MalukuTerkini.com – Kearifan budaya Maluku kembali mendapat ruang di panggung akademik internasional.
Kali ini, gagasan tentang Sumpah Batu yang mengangkat ingatan kolektif, solidaritas, dan rekonsiliasi masyarakat Maluku akan diperkenalkan akademisi Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon, Dr. Nelsano A. Latupeirissa, S.Sn., M.Sn., dalam konferensi internasional di Amerika Serikat.
Nelsano yang akrab disapa Inez mendapat kesempatan tampil sebagai presenter dalam konferensi virtual internasional bertajuk ARTs + Change Virtual Conference 2027 yang diselenggarakan Institute for the Performing Arts, University of Rochester, Amerika Serikat, pada 11 Februari 2027.
Kesempatan tersebut diperoleh setelah proposal penelitian yang diajukannya dinyatakan diterima oleh panitia penyelenggara. Kepastian itu tertuang dalam surat resmi Presenter Offer Letter tertanggal 31 Oktober 2026 dari Institute for the Performing Arts, University of Rochester.
Kepada malukuterkini.com di Ambon, Senin (2/11/2026), Inez menjelaskan, proposal penelitiannya mengangkat tema pemaknaan kembali Sumpah Batu sebagai bagian dari ingatan kolektif masyarakat Maluku melalui pendekatan pertunjukan musik lintas media.
“Proposal tersebut berjudul Sumpah Batu: Reimagining Collective Memory, Solidarity, and Reconciliation through Cross-Media Music Performance in Maluku,” jelasnya.
Menurutnya, penelitian tersebut berupaya menghadirkan kembali nilai dan makna Sumpah Batu dalam kehidupan masyarakat Maluku, sekaligus mengeksplorasi potensi musik dan pertunjukan lintas media sebagai sarana membangun solidaritas serta rekonsiliasi.
“Seni tidak hanya menjadi medium ekspresi dan kreativitas, tetapi juga dapat berperan sebagai ruang untuk merawat ingatan bersama, memperkuat hubungan sosial, serta membangun pemahaman di tengah keberagaman masyarakat. Penerimaan proposal ini sekaligus memberikan kesempatan bagi saya untuk mempresentasikan gagasan akademik tersebut di hadapan komunitas internasional yang terdiri dari seniman, peneliti, dan para pegiat perubahan,” ungkapnya.
Berdasarkan surat undangan yang diterimanya, konferensi ARTs + Change Virtual Conference 2027 akan berlangsung secara daring melalui platform Zoom pada 11 Februari 2027. Dalam forum tersebut, Inez dijadwalkan menyampaikan presentasi selama 30 menit.
Ia berharap kesempatan ini dapat menjadi sarana memperkenalkan perspektif kebudayaan Maluku kepada komunitas akademik dan praktisi seni dari berbagai negara.
“Kesempatan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan perspektif kebudayaan Maluku dalam diskursus internasional, khususnya terkait hubungan seni pertunjukan, musik, memori kolektif, solidaritas, dan rekonsiliasi,” ujarnya.
Dikatakan keikutsertaannya dalam konferensi tersebut tidak hanya memperluas jejaring akademik, tetapi juga membuka peluang pertukaran gagasan dan pengalaman dengan para akademisi serta praktisi seni dari berbagai negara.
“Pengangkatan Sumpah Batu dalam forum internasional merupakan peluang untuk memperkenalkan kekayaan nilai budaya lokal Maluku melalui perspektif seni dan kajian akademik yang lebih luas,” katanya.
Surat penerimaan dan undangan untuk menjadi presenter tersebut ditandatangani Rachel DeGuzman (Program Manager) dan Missy Pfohl (Director Institute for the Performing Arts, University of Rochester). (MT-01)
